Kepada Kung…

Mari menjelma daun
Sebelum gugur. 
Juga lambaianmu di akhir senja; 
“Barangkali perpisahan dibawa oleh musim, dikekalkan Cinta, dan ditakluk waktu.”

Jangan hanya bisu 
Sedang indramu terus menelisik
Menyibak bayu
aku kamu saling diam, saling pendam

Asa kita terbang mencari jati; katakan!
“lambaian atau berpegangan tangan”

Dpk, 22/10/18~Ado~

Lelaki Dalam Hujan

Jejak itu tidak akan hilang
Dia menikam bak belati
Terhunus tepat di jantung hati
Seperti hujan dia diam
Meski jatuh berkali-kali
Gelombang kehidupan membawanya pada pesakitan

Jkrt, 25/10/18

Malam

Daun-daun gemerusuk dicumbu angin
Batu-batu membisu dalam hening
Tapi langit tersenyum di atas sana
Ada yang tak terucap oleh kata
Hening tak bisa ditulis…

Semoga ingatmu tetap pada senja saat pertama jumpa.
Langit terbelah tak kuasa menahan kata cinta.
Saat bintang kehilangan bulan yang tersesat di matamu.
Rindu bagai burung-burung pulang mencari makan.
Dan malam berdendang seolah tak ada lagi kesepian.

Jkrt, 26/10/18


Ade Novi kelahiran jakarta 10 november, mulai menulis sejak kelas 2 SMP secara otodidak, berupa puisi dan cerpen.Karyanya sudah banyak terbit di media dan majalah remaja di Nusantara, sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi di jakarta UNINDRA, guru, anggota DAPUR Sastra Jakarta, pengurus Rumah Seni Asnur Depok, Laskar Srikandi Sastra Indonesia, aktivis di lembaga komunitas perempuan peduli Depok, dan masih banyak aktivitas di bidang organisasi kewanitaan lainnya. Pemenang dari 100 lomba puisi Gurani, peserta MUNSI 1&2 (2016-2017) Perempuan multitalenta ini memiliki berbagai karya, baik yang diterbitkan tunggal maupun secara bersama. Salah satu judul antologi puisi tunggalnya adalah Seikat Rindu Di Musim Kemarau (Teras Budaya: 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here