“Senyummu adalah candu yang membasmi hama malas dalam diriku. Jadi, kumohon, jangan berhenti tersenyum di depanku jika kau tak ingin aku malas bernapas,” kucoba meyakinkan agar dia tidak lagi marah padaku.

“Dasar bodoh, itu hanya ungkapan ulung penyair kampung. Kau gagal merayu!”

Emosiku memuncak. Aku menanggalkan sepatuku di kolong meja dan menyeret kekasihku ke kamar mandi. Tidak ada benda tajam di sana. Tetapi aku tetap berhasil.

***
Gadis itu duduk di bawah pohon beringin taman kota. Di sebelahnya ada permainan-permainan anak atau peralatan fitness ringan yang disediakan pemerintah untuk mengisi hari libur orang-orang dengan bermain atau berolahraga. Setiap pulang sekolah aku selalu melewati taman kota, dan gadis itu masih saja duduk di sana dengan khusyu’ membaca buku, entah itu apa. Sesekali ia menatap ke jalanan yang ramai sambil tersenyum.

Siang ini aku pulang kerja. Sengaja berhenti di taman kota untuk menyapa gadis itu. Aku memarkir sepeda di dekat jajaran warung yang tak jauh dari pohon beringin, bergegas menghampiri si gadis. Dia tidak ada. Tidak ada buku, rona wajahnya, dan senyumnya. Senyum surgawi yang membuatku lupa bahwa aku sedang hidup di bumi. Hanya ada jungkat-jungkit yang diperebutkan beberapa anak. Aku menghela napas panjang dan menciptakan kecewa yang paling rupa.

Matahari terik di dada langit. Aku kehausan jika tidak segera pulang. Memutar arah adalah hal baik yang seharusnya kulakukan agar tidak dihantui oleh bayangan gadis itu. Tiba-tiba angin berembus cukup kencang. Aku mendengar suara dari balik pohon beringin. Suara perempuan yang memanggil-manggil namaku.

Orang-orang diam, di gerakan terakhir setelah suara itu terdengar. Tapi aku bisa tetap bergerak. Kota ini menjadi seperti candi, prasasti dan wajah-wajah pewayangan yang membeku tanpa bisa melihat meski mata terbuka. Seorang wanita berjubah putih muncul dari balik pohon. Dia tersenyum. Ia benar-benar menarik. Hampir saja aku melupakan dunia patung di sekitarku. Tetapi aku lebih memilih lupa. Mengikutinya –mungkin– lebih menyenangkan. Auto melangkah! Kakiku seperti diseret angin untuk mengikuti langkahnya, berjalan masuk ke dalam pohon.

Di sana ada banyak tanaman hijau dan sungai-sungai kecil yang jernih. Penduduk minum air dari sungai itu. Burung-burung terbang mengangkasa. Kupu-kupu hinggap ke sana kemari. Di ujung timur, mentari muncul dengan terik yang tidak membuat kulit kepanasan.

“Ini kota apa?” tanyaku pada wanita berjubah putih.

Dia hanya tersenyum.

Aku melihat suasana sekitar. Orang-orang di sana tersenyum saat aku melintas. Anak-anak memetik buah yang tumbuh di dahan-dahan yang tidak tinggi. Susu sapi segar tersedia di gardu pendek di sisi sepanjang jalan. Wanita berjubah putih itu tetap berjalan tanpa menoleh ke arahku. Ia seperti ingin menunjukkanku sesuatu. Sampai di ujung jalan, ada pohon beringin dan gadis yang membaca buku, tapi wajah gadis itu murung. Tidak tersenyum seperti gadis di kotaku. Kuperhatikan dalam-dalam. Itu benar-benar dia!

“Hei, siapa namamu?”
Dia tidak menjawab.

Seketika wanita berjubah putih yang mengantarku menuju gadis ini hilang dari pandangan. Tanaman-tanaman hijau tadi, kemana? Dimana pohon-pohon yang tumbuh subur dengan segerombolan buah yang mudah dijangkau anak-anak? Tidak ada susu sapi segar di gardu pendek sepanjang jalan. Hilang kemana semuanya?

Aku tidak berhasil menemukan jawaban setelah kutengok kanan-kiri-belakang, orang-orang di kotaku sibuk berhamburan pulang atau pergi dengan segenap keakuan yang dibawa kemana-mana. Seketika gadis di depanku itu juga menghilang. Siapa yang berani mempermainkanku seperti ini. Konyol!

Sepedaku masih tegak berdiri di antara warung-warung taman kota. Aku pulang membawa kebingungan yang belum tuntas kupecahkan sendiri. Gadis manis pembaca buku. Keganjilan yang menyedihkan. Bagaimana mungkin wanita berjubah putih itu tau namaku, dan gadis itu, aku jatuh cinta dengan senyumnya! Senyum surgawi yang membuatku lupa bahwa aku sedang hidup di bumi.

Keesokan hari, aku memilih berdiam di rumah, tepatnya di dalam kamar. Rakitan komputer masih hambar, tak ingin kukerjakan. Kuacuhkan setumpuk baju kotor yang bau di sudut ruangan. Kacau. Aku berusaha menghilangkan kebosanan, dan senyum gadis itu. Payah! Aku tetap tidak bisa melupakan.

Sketch book dan pensil mungkin bisa membantu. Hampir satu jam aku mencoba mengingat-ingat senyum gadis itu, dan menumpahkannya pada lembar sketch book terakhir. Benar-benar tak kusadari. Gambar Luna terpampang jelas di sana. Parasnya yang indah selalu membuat hati pria terpikat.

Minggu cerah kulalui dengan ketakutan-ketakutan atas ulahku sendiri. Wanita berjubah putih, gadis itu, dan Luna. Mereka bertiga meraung-raung di kepala, memanggil namaku satu per satu. Kuputuskan bersepeda ke taman kota. Mencari-cari wanita berjubah putih, dan senyum gadis itu. Aku tak menemukannya. Tetapi pemandangan lain meninggikan tekanan darahku. Amarah kembali memuncak. Luna bersama pria lain. Aku menghampirinya. Satu langkah terakhir untuk sampai padanya angin berembus kencang.

Wanita berjubah putih itu kembali, dan orang-orang di sekitar taman kota mematung, kecuali aku. Dan Luna. Luna berbalik badan. Melihatku dengan nanar yang tajam.

“Bagaimana, akan kau apakan lagi aku?” Luna memulai dengan wajah sengit.

“Tapi bagaimana mungkin, kau bisa tetap bergerak?” Aku terbata dan berbalik tanya.

“Wanita itu adalah ibuku, dia selalu menjagaku meski kau sering melukaiku. Apa kau tidak ingin berterima kasih padanya karena telah mempertemukanmu dengan senyum gadis itu? Gadis itu adalah aku di tempat lain. Dan lelaki ini, dia adalah kakak pertamaku yang baru pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan tugas negara, dia menjadi relawan bertahun-tahun di Rohingya, dan berpindah-pindah dari negara satu ke negara lain yang butuh pertolongan medis,” Luna bercerita dengan bulir-bulir air yang merembes ke pipinya.

Aku terdiam. Menunduk. Memasang raut penyesalan yang paling dalam. Wanita berjubah putih itu kemudian tersenyum padaku.

“Aku pergi jika kau tak mau membuang segudang amarahmu yang berlebihan itu. Aku masih tetap hidup tanpa rayuan ulungmu. Aku hanya kasihan padamu. Mudah sekali tergoda dengan senyum wanita yang tak kau ketahui asal muasalnya.”

Aku terduduk, kemudian menangis.
Luna masih berdiri.
Sekejap suasana kembali ramai. Wanita berjubah putih itu menghilang. Hiruk pikuk kota terdengar bising.
“Dia siapa, Luna?” Gilang mengajukan tanya.
Luna terdiam.
Sejurus kemudian aku bangkit dan mengusap mataku yang masih sedikit berair.

“Boleh aku memiliki malaikatmu ini?” Aku meraih tangan pria yang bediri di samping Luna.

Gilang kebingungan. Apa yang dilakukan adiknya laki-laki hina yang ada di depannya kini. Ia bertanya-tanya. Luna hanya mengangkat bahu tanda terserah. Gilang kemudian banyak berbincang denganku.

Sejujurnya, Gilang ragu menerimaku menemani Luna di sisa hidupnya. Setelah mengetahui bahwa memar di wajah Luna berasal dari tanganku. Tetapi aku tidak putus asa meyakinkan Gilang. Adiknya adalah yang –mungkin– mampu melumpuhkan amarahku setelah ini. Sebelum Gilang mengiyakan, aku mengucapkan sumpah serapah dan janji manis yang juga –mungkin—akan kutepati.

Luna diam memandangi kendaraan yang berlalu lalang.

Gilang mengangguk. Aku menyungkur di hadapan Gilang. Gilang memegangi lenganku tanda jangan berlebihan. Kemudian aku berlutut di hadapan Luna beberapa saat. Luna mengangkat lenganku, menatapku dalam. Tubuhnya melemah. Berat. Lewat dadaku Luna menggiring kedewasaannya, sifatnya, sikap lembutnya, menyalurkan energi-energi terbaiknya. Aku dipilih Luna sebagai pewaris senyum ini. Senyum surgawi yang membuatku lupa bahwa aku sedang hidup di bumi.

Aku pulang dengan segenggam penyesalan. Bilik kamarku menjadi wangi. Aku melihat wajahku dalam cermin. Senyum ini, senyum gadis itu: senyummu, Luna.

Jombang, 25 Agustus 2018


Greenda Permata. Seorang penulis lepas, pelajar, dan pembelajar. Hobi menulis ilmiah dan sastra. Tulisannya pernah dimuat di tujuh buku puisi dan cerpen berupa antologi sejak 2016-2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here