Alex mundur lagi ketika tidak melihat adanya celah untuk menyeberang. Jalanan sedang ramai dan padat. Berjubel kendaraan memadati jalan raya. Bunyi klakson sahut menyahut. Bising, mempertebal rasa kesal pemuda itu. Baru dua hari bekerja di kota ini dan ia sudah ingin menyerah. Tak habis pikir ia dengan ayahnya, betapa tega menempatkan Alex di kantor cabang. Kata sang ayah, beliau tidak ingin membeda-bedakan karyawannya dan Alex harus mengumpulkan pengalaman dulu setidaknya satu tahun. 

Tapi, pemuda itu berpendapat lain. Ia merasa sudah sepatutnya diperlakukan istimewa selaku putra seorang pemilik bisnis properti tersohor di ibukota, walau memang benar ia masih lulusan kemarin sore. Sang ayah tak peduli. Alex dikirim ke salah satu kota di pulau Sumatera. Kota yang panas dan hingar bingar. Alex tak suka pada kota ini dan ia kesal pada ayahnya.

Sepuluh menit Alex menunggu dan ia masih belum mendapat kesempatan untuk menyeberang jalan raya. Sebenarnya, lampu lalu lintas masih gagah berdiri dan jembatan penyeberangan masih melintang di atas jalan raya. Sayang, kedua fasilitas itu tidak berfungsi lagi. Ketiga warna lampu lalu lintas tak pernah lagi menyala, sementara kondisi jembatan penyeberang  itu tidak memungkinkan lagi untuk digunakan. Lantainya tampak berlubang di beberapa bagian. Takkan ada seorang pun yang mau ambil resiko melintasinya. Bisa-bisa penyeberang jeblos ke bawah, jatuh ke jalanan, lalu terlindas kendaraan.

Pemuda itu kembali mengambil ancang-ancang. Tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya. Alex menoleh kaget. Seorang gadis berdiri di sisi kirinya. Matanya memelas. Ia memandang Alex dan seberang jalan bergantian. Jelas-jelas meminta tolong untuk ikut menyeberang meski ia tak mengucapkannya. Alex mengangguk sekenanya. Ia juga ingin cepat-cepat tiba di seberang sana.

Pada satu momentum, Alex melangkah maju. Gadis itu mengekorinya. Alex melambaikan tangannya pelan, memberi isyarat kepada mobil-mobil agar menurunkan kecepatan dan memberi mereka kesempatan untuk melintas. Ketika mereka tiba dengan selamat, gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun . Ia hanya menurunkan tangannya yang semula memegang lengan Alex, beralih menyentuh jari-jarinya. Ia menyelipkan sesuatu di sana, lantas berbalik pergi. Secarik kertas kecil yang terlipat. Penasaran, Alex membukanya.  

‘Terima kasih.’
Alex mengernyit, lalu meremas kertas itu. Benaknya mengambil kesimpulan, gadis itu hanya berkelakuan iseng.

***
Alex telah melupakan momen menyeberang dengan gadis iseng itu dan ia masih menggerutu karena tidak suka dengan tempatnya berada. Tapi, tiga hari kemudian, ia bertemu gadis itu lagi. Ia kembali ikut menyeberang dengan Alex, juga kembali menyelipkan secarik kertas kecil di jemari pemuda itu ketika mereka tiba di seberang.  

“Kenapa enggak ngomong langsung aja, sih?” batin Alex heran. Ketika pertama kali ia melakukannya, Alex tidak terlalu ambil pusing. Tapi ini adalah kali kedua.

Hal itu lalu menjadi rutinitas aneh. Sudah dua minggu kini, setiap dua atau tiga hari sekali, Alex menyeberang dengan gadis yang tidak ia kenal itu. Prosedurnya tetap sama dengan secarik kertas berisi ucapan terima kasih.

Lama-kelamaan, Alex terlalu penasaran untuk tetap diam. Suatu hari, ketika ia tiba di seberang bersama si gadis, Alex menahan tangannya ketika ia menyelipkan kertas lagi.

“Nama kamu siapa?” tanya Alex langsung. Bukannya menjawab, ia malah mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku roknya dan menuliskan sesuatu.
“Rossie Gita.”

Barulah Alex tahu kalau Rossie seorang tuna wicara. Kertas-kertas kecil yang diberinya tempo hari merupakan caranya menyampaikan rasa terima kasih. Pertemuan singkat kala menyeberang jalan menjadi pertemuan yang sedikit lebih lama ketika mereka memutuskan untuk ‘berbincang-bincang’ sambil menikmati es kelapa muda. Rossie mengisahkan pada Alex, tiga tahun lalu ia mengalami kecelakaan hebat. Ayah ibunya meninggal karena kecelakaan maut itu. Beruntung Gita selamat, meski ia shock berat dan mengalami trauma dengan jalan raya. Trauma berat itu membuatnya kehilangan suara.

Entah apa yang membuat Alex selalu sabar menunggu Rossie menulisi apa yang ingin dikatakannya di sebuah notes kecil yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Mungkin karena gadis itu teman ngobrol yang menyenangkan. Alex melihat mata gadis itu berbinar ketika berhasil menyampaikan maksudnya. Mata itu seolah ikut bicara. Alex menganggap pertemanan dengan Rossie sebagai sebuah pengalaman yang menghibur, yang setidaknya mampu mengurangi rasa tidak betahnya berada di kota ini.

“Terima kasih sudah mengizinkanku menyeberang bersamamu selama ini.” Rossie menyodorkan notesnya. Alex hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Tidak banyak orang yang seperti kamu. Kebanyakan orang terlalu sibuk dengan kepentingan sendiri. Aku kesulitan menghadapi jalan raya dan lalu lintas seperti ini. Trauma itu masih membekas,” tulisnya lagi.
“Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan,” ucap Sony. “Tapi kamu harus belajar menyembuhkan trauma itu. Bagaimana kalau suatu hari nanti aku tidak ada untuk menyeberangkan kamu?” goda Alex. Rossie tertawa kecil.
“Aku janji akan belajar, trauma ini akan sembuh. Kebaikan yang telah kamu beri padaku, akan aku teruskan pada orang lain.”

Alex tersenyum melihat ketulusan dan kesungguhan di wajah itu. “Kamu gadis yang hebat,” puji Alex dengan hati haru. “Aku tahu hidup kamu tidak mudah, tapi kamu begitu kuat menjalaninya.”

Sedetik kemudian pemuda itu malu sendiri, tersindir dengan kalimat yang dia ucapkan. Pemuda itu sadar bahwa ia lebih sempurna dari Rossie. Ia sudah mendapatkan apa yang ia mau, tapi kadang ia ingin lebih dan lebih lagi. Gadis itu jelas tak pernah menginginkan keadaan seperti hidupnya sekarang. Namun, Alex yang kemarin masih menggerutu karena hidupnya tak seperti diinginkannya, malah mampu memberi kalimat yang menguatkan orang lain.

Rossie menyodorkan notesnya lagi, membuyarkan lamunan Alex. “Aku ingin memberimu ini.”

Ia lalu terlihat sibuk mencari-cari sesuatu dari tasnya. Sebuah novel. Raut Rossie tampak bangga ketika menunjukkan namanya tertera di sampul novel tersebut. Mata Alex benar-benar terbuka sekarang. Ia menyadari gadis di hadapannya itu sungguh berbeda dan istimewa. Baru kali ini Alex benar-benar akrab dengan seorang gadis yang baru beberapa bulan ia kenal.

Rossie menjadi salah satu teman terbaik Alex yang berhasil mengurangi kekesalan pemuda itu terhadap kota ini. Gadis itu tak lagi mencekal lengan Alex ketika mereka menyeberang bersama, tapi Alex menggandengnya, memberinya rasa aman. Alex juga melarangnya menyelipkan kertas lagi di jemarinya. Ia  menganggap membantu Rossie menyeberang hanyalah hal kecil, meski bagi Rossie itu adalah perkara yang besar. Tapi kadang, gadis itu masih suka iseng memberi Alex secarik kertas. Meski sudah tahu pasti apa isinya, pemuda itu tetap membukanya. ‘Terima kasih, Tuan Penolong’

***
Alex kembali lagi ke kota yang tetap hiruk pikuk setelah dua bulan harus keluar kota untuk melakukan survei. Semua masih terlihat sama: lampu lalu lintas juga jembatan penyeberangan itu masih belum berfungsi. Tapi, diam-diam Alex berharap satu rutinitas yang belakangan ini ia jalani juga tidak berubah.

Sekarang adalah waktu biasa mereka akan menyeberang. Tapi pemuda itu heran, Rossie tak juga menampakkan batang hidungnya. Alex menunggu. Ia memasang earphone di telinganya. Lima lagu milik The Cranberries telah ia dengarkan, Rossie tak juga muncul. Alex memutuskan untuk pergi.

“Mungkin Rossie tidak masuk kerja hari ini,” batinnya. “Semoga ia baik-baik saja.”

Alex hampir saja beranjak ketika tampak perempuan berpakaian seperti perawat mendorong sebuah kursi roda dengan seorang wanita tua duduk di atasnya. Di pangkuannya tampak beberapa tangkai mawar merah. Mereka menuju ke arah Alex. Tepat di depan pemuda itu, si wanita tua meletakkan mawar-mawar tersebut di  trotoar. Bibirnya bergerak-gerak. Entah apa yang dia ucapkan.

Alex mengerutkan kening melihat kelakuan janggal wanita itu. Untuk apa meletakkan bunga di bibir jalan raya? Bunga itu akan segera terlindas-lindas oleh kendaraan yang melintas. Kelopaknya akan berhamburan dan batangnya hancur hingga tak berbentuk lagi.

***
“Dia meninggal tertabrak mobil ketika mencoba menolongku menyeberang jalan, padahal waktu itu sedang hujan. Ia mendorongku ke pinggir jalan ketika sebuah mobil melaju kencang ke arah kami. Hari ini genap sebulan ia telah pergi,” cerita wanita tua itu kepada Alex. Beberapa orang tampak mendekat, ikut mendengarkan kisah wanita tua itu.

“Aku melakukan ini sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepadanya. Berkat gadis itu, aku masih hidup hingga saat ini.”

Alex terhenyak. Si wanita tua dan perawatnya berlalu. Pemuda itu menarik nafas panjang. Dipandangnya mawar-mawar itu dengan sedih. Rossie telah tiada. Ia benar-benar membuktikan akan meneruskan kebaikan Alex dengan menolong orang lain. Ia pasti berusaha keras mencoba mengalahkan traumanya sendiri.

“Selamat jalan, Rossie,” bisik Alex lirih. Ia kini tak perlu menunggu lagi. Pemuda itu bersiap menyeberang ketika celananya ditarik-tarik oleh seorang gadis kecil yang mengenakan seragam putih merah. Seakan tahu apa yang diinginkannya, Alex mengulurkan tangan. Mereka bergandengan dan melangkah menyeberang jalan. Diliriknya gadis kecil yang berada di sisi kirinya itu. Alex tersenyum. Ia terkenang akan Rossie Gita.

Medan, ’16 -‘18


Dian Nangin lahir tahun 1991 dan saat ini tinggal di kota Medan. Sejumlah karya penulis berupa cerpen telah dimuat di beberapa media cetak dan elektronik, seperti Harian Analisa, Medan Bisnis, Sumut Pos, Waspada, Cendana News, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, dan sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here