*) Bambang Widiatmoko

Untuk memahami mitos tentang laut, kita dapat melacaknya melalui antologi puisi Negeri Laut. Antologi  puisi ini berisi 175 penyair dari Negeri Poci 6. Diterbitkan oleh Komunitas Radja Kecil,  tebal 729 halaman.

Menarik membaca antologi puisi ini, terutama yang berkaitan dengan  mitos di dalamnya. Kata mitos berasal dari bahasa Inggris yang berarti dongeng atau cerita. Mitos juga dipahami sebagai realitas kultur yang sangat kompleks. Secara terminologis mitos dapat diartikan sebagai kiasan atau cerita sacral yang berhubungan dengan even-even pada waktu primordial, yaitu permulaan yang mengacu pada asal mula segala sesuatu dan dewa-dewa sebagai objeknya, cerita atau laporan suci tentang kejadian-kejadian yang berpangkal pada asal mula segala sesuatu dan permulaan terjadinya dunia (Eliade, 1987: 262).

Es Wibowo dalam puisinya “Mantra Borobudur” menulis: “//Setelah merapal mantra suci/aku ditendang, dibekap, disekap/dan dibentur-benturkan dinding Merapi/aku menahan sakit tak tertanggungkan/merasakan perih tak terucapkan/tubuhku yang remuk digerogoti Kalabendhu/sepanjang malam bertanya pada semesta:/”untuk apa pengecut itu menumpahkan/nafsu angkara menjegal jalan dharmaku?”//Tak satupun orang menjawab getap tangisku/orang-orang bijak sudah tuli dan bisu/seperti patung Aksobya tanpa kepala/persis arca Ratrasambhawa tanpa mulut dan telinga/hanya risik angin Menoreh yang terdengar/angin yang mengendus dari nafas Gunadharma/nafas yang mewujud dari mantra Bethara Surya//Semenjak ditendang, dibekap, disekap/dan dibentur-benturkan dinding Merapi/setiap malam, setiap menjelang tidur/aku selalu terbayang wajah pengecut itu/menyusup lorong bawah tanah/meremuk tulang igaku yang rapuh/tulang belulang yang dulu/dikubur undagi jadi Tatal Tumingal di bumi//”(hlm. 191).

Dalam puisi di atas terlihat bahwa perwujudan Borobudur pun dapat dilihat dari sisi mitos. Betapa mantra suci perlu dirapalkan karena berbagai tantangan yang dihadapinya. Tantangan untuk menjegal jalan dharma. Betapa pedih ditendang, dibekap, disekap dan dibentur-benturkan dinding Merapi. Mengapa ada diksi Merapi dalam sajak tersebut? Konon pembuatan Borobudur menggunakan batu yang berasal dari Merapi. Dan perlambangan betapa sulit untuk mewujudkannya seperti menahan sakit yang tak tertanggungkan.

Dalam sisi kehidupan kekinian, penyairnya pun merasakan perlu untuk merapal Mantra Borobudur karena bayangan wajah pengecut. Merapi pun mengandung mitos tersendiri. Masyarakat yang tinggal di sekitar Merapi berkedudukan sebagai makrokosmos (Jagat Ageng) dan gunung Merapi sebagai lingkungan alam dan kehidupannya berkedudukan sebagai mikrokosmos (Jagat Alit). Munculnya Mantra Borobudur ini memiliki kearifan lokal yang diusung penyairnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan kepercayaan yang diyakininya.

Demikian pula dalam sajak Es Wibowo berjudul “Turonggo Diponegoro” yang mengangkat mitos gunung Tidar sebagai pakuning tanah Jawa. Seperti dalam kutipan berikut ini: “//Aku jaran Sengkali/ajaran sing eling aja lali/turonggo waspada tunggangan Diponegoro/yang dilukai sabda pandhita ratu/sabda dadi yang kukira bisa mengubah/kemiskinan menjadi kesejahteraan/kekalahan menjadi kejayaan/di gunung Tidar Pakuning Tanah Jawa//” (hlm. 190).

Tidak hanya di Jawa Tengah yang begitu subur cerita tentang mitos. Dalam tradisi suku Bugis pun terdapat tradisi Mappanretasi, tradisi suku Bugis nelayan di Pagatan sebagai tanda syukur akan hasil laut yang melimpah. Kita baca sajak Andi Jamaluddin berjudul “Mappanretasi” berikut ini: “//derai malam/meneteskan air mata pasir/angin mengusap wajah, pantai/sejenak menorehkan senyum/dalam dekap waktu/tak ada kata menuliskan laut/apalagi nyanyian layar-layar katir/sebab leluhur telah memahatkan arus/pada dinding ombak, di sini/kita hanya bisa menyelam/di kedalamannya//mappanretasi/derai malam/menggigilkan asa/bagi negeri//” (hlm. 54).

Keyakinan pada leluhur begitu mendalam sehingga tradisi ini tetap lestari. “Sebab leluhur telah memahatkan arus”. Hal ini sebagai sikap terhadap alam yang mempunyai relevansi sosial. “Derai malam/menggigilkan asa/bagi negeri”.

Dalam sajak Arther Panther Olii berjudul “Tulude” juga berkisah tentang mitos. Tulude adalah upacara syukur masyarakat Sangihe Talaud kepada mawu ruata ghenggona langi (Tuhan Yang Maha Kuasa) atas berkat-Nya kepada umat  manusia selama satu tahun berlalu.

Kita baca kutipan sajak “Tulude” berikut: “//di musim sesudahnya, ia pemberi jawab, kembalinya adalah tulude/perayaan mengusir lugu dan ragu dari raga masa lampau//sepasang lengannya menekuri punggung hari, segala haru lesap ke/doa dan sujud, syukur ke syukur terus memuluskan umur//” (hlm. 64).

Sungguh kita memeroleh pengetahuan baru tentang mitos di Sangihe Talaud. Penyair pun tampak sangat selektif memilih diksi dalam puisinya. Betapa pun kita harus selalu bersyukur untuk memuluskan umur. Semoga.


Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran Yogyakarta ini  memiliki kumpulan puisi tunggal al. Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), Jalan Tak Berumah (2014), Paradoks (2016), Silsilah yang Gelisah (2017).  Selain sebagai dosen di Universitas Mercu Buana, dia juga peneliti tradisi lisan di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here