Manekin Manekin Pendosa

Menekuri paragraf kehidupan bahwa kebenaran sejati tak luput dari kepahitan
Beting beting malam tak lagi menjaga dan menghangatkan jiwa sekaligus raga
Mereka bersenyawa dengan manis manja lisan
Munafik terbalut gesture tubuh, menjilat dengan aksara tipu muslihat
Manusia bertopeng kulitnya sendiri

Menempuh jalan yang instan bersama ego, mengorbankan kawan untuk tujuan diri
Kamuflase..
Fatamorgana..
Harapan dari jiwa jiwa pendoa, mereka mainkan tanpa nurani seolah mereka setara Sang
Khalik, namun episode belum berakhir

Aku mempelajari karakter hiperbola yang membalut tubuh tubuh mereka
Nafsu duniawi tersemat pujian panggung sandiwara
Algojo tak tidur
HukumNya berjalan cepat atau lambat pada semua yang terlibat dalam memenjarakan hak yang hakiki

Depok, 30 Oktober 2018

Kunang Ada Di Mana Bu?

Kukatakan pada langit yang tak lagi bercerita tentang surya
Mendung juga kilat dan petir yang saling bertaut
Hujan turun satu bulan penuh tanpa pelangi
Tandus berganti orkestra embun yang bergantian hadir membisikkan kata, selamat pagi Kunang

Aku bertemu dengan Kunang di ruang yang sama, ia berbeda ranjang denganku
Di sini, di ruang putih bersih
Kunang bilang ingin menjadi pilot agar bisa mengantar anak-anak di rumah ini untuk menuju rute kesembuhan
Kunang seperti cahaya yang tak pernah surut memberi energi untuk bangkit lebih optimis

Kau tahu kisah selembar daun yang jatuh ke tanah tidak mungkin menjadi hijau kembali
Malaikat penjaga, pelindung, serta pencabut nyawa ada di sisiku
Setiap waktunya bergelut dengan harapan dan doa
Diaryku tetap kosong bahkan belum kubuka segel pembungkusnya, aku tak tahu harus menulis apa?

Hidup yang berpihak padaku datang atas takdir dariNya
Membuka sepasang mataku dan ranjang di sebelahku sunyi
Kunang ada di mana bu?
Hanya suara angin yang berbisik lirih membawa harum bunga krisan, Kunang pergi saat hujan tak turun kembali

Depok, 1 Nopember 2018

Topi Marun

Kidung sunyi
Pada hutan hutan pinus
Waktu tak bisu
Cerawat memanggil raga raga yang melewatinya
Malam menenggelamkan mimpi dan cita
Topi marun hilang dalam tarian lumpur hidup

Depok, 2 Nopember 2018


Erna Winarsih Wiyono lahir pada bulan Oktober di Kota Bogor. Tergabung di beberapa Komunitas Pelukis dan Komunitas Sastra. Antologi Puisinya antara lain : Rampai Serenade Rasa (Jalan Pulang Pelangi Pagi@Pustaka Kata 2015), Perempuan Terhebat (serat Damar Dalam Tautan Pena Senja@Forsasindo), Kampoeng Bamboe,dan Palagan Sastra, Teras Budaya Jakarta, The First Drop Of Rain; Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here