Tubuh bongkok itu terlihat ringkih. Jalan sebentar saja sudah sempoyongan. Mengandalkan tongkat kaso sebagai alat bantu. Ke mana pun kaki kurusnya melangkah, tongkat itu ikut serta. Ketukannya ibarat melodi-melodi yang setia mengiringi perjalanan si tua. Mana tahu ia kehilangan keseimbangan, atau tiba-tiba bumi bergerak, ia berharap tongkat itu bisa sedikit menolongnya.

Trotoar ibu kota sekarang banyak berlubang. Seperti luka-luka yang menganga, tak kunjung diobati. Egois sekali pemerintah, hanya mau merawat fasilitas pejalan kaki itu di tempat-tempat tertentu. Tempat yang kemungkinan bisa terpublikasi dan bisa jadi sarana promosi pencitraan politik. Sinting! Mereka tak memikirkan pejalan kaki seperti Supardi, atau si tua lainnya.

Langkah itu berhenti di sebuah barber shop. Diamatinya orang-orang yang berlalu lalang, dan ia tak sungkan melemparkan senyuman pada setiap yang berpapasan. Bagi Supardi, senyum adalah energi positif yang harus dibagikan kepada siapa pun orang yang ia temui dalam lembar hidupnya. Ia hanya tahu memberi tiada tahu menerima, termasuk senyum yang kadang dibalas dengan sikap acuh. Ah, Supardi tak peduli.

Ia lantas membeku, membiarkan wajahnya tersapu angin. Supardi suka angin pinggir jalan yang mengandung debu, juga asap-asap kendaraan. Tidak hanya itu, ia juga suka segala bising jalanan yang masih jelas ia dengar, meski usianya hampir lapuk di makan waktu. Ia suka jika hidupnya bising, udaranya berdebu.

Si tua menghela napas dalam, mencuri udara dari rongga dadanya. Ia lantas bergerak tak karuan, mencoba meluruskan tubuhnya yang bongkok. Gagal. Hanya suara gemeretak tulang lapuk, menciptakan sensasi nyeri pada tubuh Supardi.

Ditatapnya ke dalam bangunan kecil itu. Seorang anak lelaki bergigi ompong tertawa padanya. Entah apa arti dari tawan itu? Mungkin menurut si bocah Supardi terlihat konyol. Atau mungkin dia merasa bahagia menemukan laki-laki yang sama ompong.

Supardi mendorong pintu kaca tersebut. Debu-debu pada lantai menimbulkan decit yang cukup mengganggu. Entah sudah berapa lama lantai itu tidak disapu? Atau memang polusi sudah sedemikian parah, hingga menghasilkan debu-debu tebal pada lantai tersebut setiap harinya.

“Kakek mau dicukur?” Tiba-tiba si anak lelaki tadi menyambutnya hangat.

“Owh, ya.”

“Imung saja yang cukur, Imung bisa!”

“Imung?”

“Iya. Namaku Imung.”

“Nama yang lucu. Seperti gigimu yang ompong.”

Mereka kemudian terbahak. Merasa sama-sama ompong.

Tak lama berselang, seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan mendekat. Ada beberapa sisa rambut di lehernya yang kekar. Dia terlihat begitu karismatik dengan hanya menyisakan satu sentimeter rambut di kepalanya.

“Hey, Jagoan. Saatnya kita bersenang-senang! Ayah sudah siap!”

“Hore! Kita ke kidzania! Kita ke kidzania!”

Lelaki tegap itu kemudian mengangkat tubuh mungil Imung dan mendudukkannya di pundak. Si bocah lantas berteriak seolah-olah ia adalah bajak laut paling kejam di seluruh samudera. Kepala sang ayah dijadikannya kemudi. Ditarik ke kiri, dibelokkan lagi ke kanan. Si pria menirukan bunyi cerobong asap yang menggema. Berulang kali menggema. Ya, mereka siap berlayar.

Supardi menatap mereka hingga menghilang di kelokan jalan. Ia juga pernah mengalami masa itu dulu bersama jagoan kecilnya. Ah, waktu bergulir begitu cepat. Ke mana sekarang bajak laut kecilnya?

Supardi berbalik badan. Ia datang ke barber shop untuk dicukur. Bukan menonton kebahagiaan Imung dan ayahnya. Meski kadang ia pikun, tapi hal-hal penting itu tak pernah terlupakan. Selalu ia rawat dalam ingatan. Rukmini bisa ngambek kalau rambutnya gondrong. Perempuannya tak pernah suka sehelai pun rambutnya menyentuh telinga. Berantakan!

“Dicukur, Kek?”

“Ya. Lakukan seperti biasa!”

“Siap!”

Lalu, suara gunting dan mesin cukur berdesing. Supardi yang duduk di kursi cukur terkantuk-kantuk. Maka ia pasti tertidur pulas. Selalu begitu.

“Orang gila!” ucap pencukur itu sambil tertawa pelan. Jangan sampai si tua bangun. Urusannya akan lebih panjang. Apa yang bisa ia cukur di kepala yang bahkan sudah mengkilap dan keriput itu?

Ketika Supardi terbangun ia akan pura-pura menepuk sisa-sisa rambut di pundaknya. Hampir setiap hari sandiwara itu dimainkan. Tentu ia sudah lihai.

Supardi mengamati dirinya di cermin. Dan, ia tak pernah merasa setampan itu sebelumnya.

“Kau hebat, Anak muda.” Ia lantas tersenyum lebar, seraya menyodorkan selembar uang berwarna biru.

“Seperti biasa, ambil saja uang kembalinya. Belikan istrimu batu permata.”

Si pencukur menunduk berusaha menyingkirkan tawa yang hampir pecah. Sebenarnya istrinya menginginkan stiletto maroon di seberang jalan. Ia akan kerja keras setiap harinya. Mengasah kemampuannya bersandiwara untuk si tua. Mana tau ia diberikan permata. Akan ia jual untuk membeli sepasang stiletto maroon itu.

Setelah keluar dari barber shop, Supardi merasa lebih segar. Selangkah dua langkah kemudian ia terdiam seperti memikirkan sesuatu. Diingatnya lekat-lekat, bagaimana mungkin anak muda itu bisa mencukur rambutnya setiap hari? Padahal, sejak kecil ia tidak punya rambut. Dan yang lebih aneh, siapa Rukmini yang bawel dan akan memarahinya jika gondrong? Juga, kapan ia pernah menggendong jagoan kecilnya di pundak? Sinting! Dia kan bujang lapuk sebatang kara.

Supardi tertawa. Menertawakan ketidakwarasannya. Menertawakan hidupnya yang sepi. Juga, menertawakan orang-orang bodoh di barber shop.

JB, 05082018


Mutiara Fauzia. Perempuan biasa pengagum fiksi. Dapat ditemui di Facebook dengan nama akun Zee Mutiara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here