Aku Surat di Dalam Kotak Pos

Barangkali tukang pos yang kutitipkan sajak
dalam suatu lembar itu sudah tak mau bekerja
mengantarkan kerinduan dan cinta
ke pintu-pintu yang menunggu ketuk pertama

Atau barangkali ia pun sudah tak mau mengingat
berapa banyak alamat rumah yang harus ditebus
sampai lupa—kesedihan mana yang belum tuntas
bertulis nama dan titi mangsa

Malam menjelma hutan yang menyembunyikan
pertemuan-pertemuan di suatu meja makan
dentang jam mengeras dan aku surat dalam kotak
di halaman pagar itu yang tak pernah tahu
kapan kau membuka kunci dan menghapus debu

Serpihmimpi, 2018.

Surat untuk Mirat

Telah aku masukan sore cahaya pertemuan kita
di suatu pantai cilincing ketika kali pertama mata
saling bicara bertukar uar yang menghangatkan jakarta
pada selembar surat yang akan kauterima hari pagi

Aku tak lagi tahu berbuat apa untuk cinta kita
yang gagal, gugur, dan patah ketika sedang merekah
Aku masih ingin melihatmu melukis lanskap semesta
atau bahkan aku yang tenggelam dalam buku kali itu
yang hampir merusak pertemuan pertama

Dalam surat banyak sekali aku menaruh badai
guguran daun patah yang tak sengaja kita injak berpisah
dan retakan hatiku dan hatimu yang tak akan bertautan
Bacalah surat-surat yang kutulis dengan sajak
ketika malam hening menggelembung
agar kau menemukan aku
sendirian dihempas
waktu

Serpihmimpi, Juli 2018.

Sebuah Obituarium di Selembar  koran

Ada sebuah obituarium di selembar koran pagi ini. Di halaman ganjil. Aku tak pernah tahu kalau kematian adalah berita yang menarik, padahal kau selalu bersembunyi dari nadi kematian sendiri. Apakah kematian sama dengan berita kemenangan sepak bola? Jelas semua orang tak mau membaca. Tapi kita pernah bercita-cita mencari pose terbaik, mematut wajah, dan mencari kata mutiara, iya kan? Kata yang membuat kita percaya kematian adalah suatu penghargaan karena kita telah berjalan lama.

Perlahan aku mengingat wajahmu—sayu dan legam—sebagai model kematian hari ini. Dan tiba-tiba aku mau menjadi juru potret mengabadikan ketakutanmu melupakan kematianku.

Serpihmimpi, Juli 2018.

Mengintip Hujan

Aku mengintip hujan dari balik gorden kamar. Tanah menjadi kuyup dan daun-daun yang tua jatuh. Seperti sebuah kanvas besar, hujan menggambar wajahmu, tanpa warna serupa film lama yang diputar. Aku menerka-nerka bagaimana kalau aku adalah daun itu yang mengambang di airmu yang kaulupakan pernah berselancar di gurat dadaku. Sia-sia dan terlentang sendirian.

Hujan yang mungkin putus asa ini. Yang datang pagi-pagi. Melebat di pelataran rumah merupa air matamu yang pecah ketika pelukan kita berakhir pada suatu tanggal yang ranum. Sebab jarak serupa tali yang mengikat buruan. Kita hanya bisa terkatung-katung menunggu diselamatkan oleh perasaan baru atau masa lalu yang keruh apalagi kenangan yang menyebalkan.

Serpihmimpi, Juli 2018.

Sebelum dan Sesudah Cerai

Aku menunggu gurun napasmu
limpah. Lalu kita saling kehausan
lalu saling tunggu menunggu
melerai airmata seperti batu.

Kaupergi amat jauh meninggalkan
tubuhku disarut suhu—sesekali—
menarung maut yang kian tumbuh.

Mungkin dalam kelambu atau batu
kita pernah mencatat tawar tubuh
tindih menindih menggali sesuatu
mencari warna kulit anak-anak.

Sejak itu cinta terlelang jauh-jauh
puting susu tak lagi merah jambu
kita hampir tak percaya tuhan satu
tapi ada di tubuhku dan tubuhmu.

Sekali lagi aku ingin berjalan
di gurun napasmu merasa kehausan
terengah-engah mencapai kebisuan
sampai selesai sampai benar.

Serpihmimpi, Juli 2018

Akad

Sebentar lagi kita akan melingkarkan
gelombang laut dan ombak tak penurut
sama-sama mengitari rahasia musim
yang mengubah arah layar.

Aku akan tertumpah oleh ombak sepimu
wajahku tertutup berai rambutmu yang bermusim
kita akan menjelma sepasang burung di atas riak laut
mencari tepian dan saling patuk mematuk pelukan.

Serpihmimpi,, Juli 2018.


Irvan Syahril lahir pada 18 November 1997 di Subang, Jawa Barat. Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang. Menggawangi komunitas Gubuk Benih Pena (GBP) serta bergiat dalam Ekstrakurikuler Bengkel Menulis Unsika (Bemsika) dan mengelola blog puisikusyahril.blogspot.com & sastrarumah.blogspot.com. Beberapa puisi permah terbit di media cetak dan online seperti Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Republika, Banjarmasin Post, Rakyat Sumbar, Janang. Id, Simalaba Online dan lainnya. Serta beberapa puisi termaktub dalam buku antologi puisi bersama Karawang Abadi Dalam Puisi (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Bintalak (2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here