Berulang kali kukatakan padamu Ibu kalau panggilan itu demikian dahsyat seakan menusuk-nusuk gendang telingaku, ia memanggilku untuk mengikuti jalan itu, jalan di mana  beberapa orang akan menyayangkan dan berkata bahwa pilihanku masih prematur, penuh tanda-tanya. Tapi berulangkali tanya itu kujawab, kau hanya memandang lurus ke depan, lirih suaramu terdengar dan berkata, “Jika kau juga ikut dengan Abang-Abangmu, siapa yang yang akan meneruskan keturunan Ayah dan Ibu. Siapa yang akan mewarisi kekayaan  yang kita miliki? Siapa yang akan mengurusi sawah, ternak dan perkebunan kita? Siapa? Karena selain kau, keturunanku tak ada lagi. Ya tak ada lagi…”

Ooo, rupanya itulah yang memberatkanmu. Ibu, seandainya kau tahu kalau harta dunia tidak membuatku tertarik, seandainya kau tahu aku ingin hidup selibat dan tak ingin memiliki keturunan, seandainya…ah kutahu kau pasti akan kecewa. Kau akan berkata, “Maria Annabele, mengapa kau melakukan itu? Dua kakakmu sudah meninggalkan kami. Hiruk pikuk dunia telah mereka lupakan. Lalu kau juga ingin mengikutinya, membiarkan kami membusuk di ladang dan segala harta yang kami miliki. Mengapa?”

Aku, Maria Annabele menyimak ucapanmu Ibu dan menyimpannya di relung batinku yang terdalam, namun pergolakkan yang menyerupai perang dahsyat di dalam hatiku tak pernah usai. Jiwaku seolah melalangbuana menyusuri ruang sunyi dan mengembara di tiga danau dengan warna-warna yang tidak pernah selalu sama. Danau yang berdekatan dengan desa kita, Danau Kelimutu! Ya nama  danau itu seolah menuntun aku untuk menguak misteri yang ada dan sekaligus menjadi sarana pembebas dari seluruh resah yang kurasakan detik demi detik. Ada bisikan tersenyap yang menggaung di telingaku. Suara yang terdengar itu  bagai ritual alam yang selalu memanggilku untuk mengikuti alirannya, mengikuti kehendak hati yang berdentam di seluruh jagad jiwaku. Ibu, jika saja kita bisa berganti posisi, kau akan tahu mengapa jalan ini yang kupilih, jalan di mana banyak orang  mungkin tidak memahaminya.

“Tinggalkan semua yang ada, ikutlah denganku. Kau akan menjadi pelayan umat, meninggalkan riuhnya dunia yang penuh intrik, penuh derita, penuh dengan kejahatan. Mari ikutlah denganku…” Ibu, suara itu terus memanggilku. Mengorek-ngorek gendang telingaku.

Ibu, ketika  kukatakan pergulatan yang telah terjadi di relung batinku, lagi-lagi matamu menerawang, memandang jauh ke depan. Katamu, “Jika hanya untuk itu aku melahirkan anak-anakku, seharusnya aku tidak memiliki anak-anak yang kelak meninggalkanku, yang tidak lagi mewarnai hidupku dengan kehadiran cucu-cucu yang lucu-lucu. Jika  garis kehidupanku seperti itu, maka sekali lagi aku  akan berkata, tak ada gunanya aku menikah, ya tak ada gunanya…”

Aku, Maria Anabelle merenung di dalam kamarku yang sunyi.

Ibu, ketika detak kakimu  terdengar mendekati pintu kamarku, aku menyusun nafasku yang memburu. Tangisan yang turun membasahi pipi cepat kuhapus, aku menata wajahku dengan format  normatif seperti biasanya, mencoba agar kau tidak lagi mencurigai apa yang ada di benakku, dan seperti biasa kau akan memborbardirku dengan pulasan wajah yang teduh, menyedihkan juga menghanyutkan, kemudian membujukku untuk menggagalkan keinginannku. Tidak! Aku tidak boleh hanyut lalu terperdaya oleh bujukkanmu yang meluluhlantakan hati ini, aku tetap ingin hidup selibat, tetap!

Keputusanku masih pada tempatnya, tetap bergeming meski segala bujukan yang menjurus ke penyerangan psikologis menusuk-nusuk gendang telingaku. Lalu Fre tepatnya Frederico tiba, ia bersikap sama, ingin menghentikan segala hal yang telah kuracang. Lelaki asal Desa Lio, Kabupaten Ende  ini berkali-kali meminangku, ia menatap tajam ke mataku. Fre, lelaki tampan dengan wajah desa, berotot kuat dan  juga  seorang petani  sekaligus pengembala puluhan kerbau dan sapi yang dimiliki ayahnya, tak mudah menyerah untuk mendapatkanku.

“Adakah yang salah denganku, Bella?” tanyanya ketika kami menyusuri jalan setapak memasuki desa, usai  mengikuti misa terakhir di bulan November.

“Tak ada yang salah. Kau lelaki yang baik.” Jawabku.

“Lalu, mengapa kau menolak lamaranku? Kita sudah bersama sejak SMA, aku mengenalmu dengan baik.”

Aku, Maria Anabelle membisu.  Cincin pemberian Fre masih tersimpan di atas meja riasku, lelaki berkulit coklat membara itu pernah menanyakannya, “Mengapa kau tak pernah memakainya?”

“Aku bukan milikmu, bukan pula milik siapa-siapa, jadi mengapa aku harus memakai cincin yang mengisyaratkan kalau diriku ada di bawah kuasamu? Frederico, aku milik Tuhanku. Jalan menuju ke arahNya, itu yang lebih memikatku.” Jawabku.

“Lalu?”

“Aku ingin menjadi biarawati, hidup selibat mengikuti kedua kakak lelakiku. Kurasa pilihanku ini sudah tak bisa diganggu gugat lagi. Kau pasti sudah tahu niatku itu dari Ibu. Dengan begitu kita tak akan pernah bisa menikah.”

Frederico membisu. Angin yang menerpa wajahnya berlalu dengan sia-sia. Apa yang menjadi kegundahannya terkuak. Sekian tahun menunggu dengan rasa curiga yang selalu menyergap, akhirnya terjawabkan. Ia tak bisa menahan keinginanku. Dan cincin pemberiannya kukembalikan. Frederico terbebas dari segalanya, termasuk belis atau mas kawin yang harus ia berikan ke ayah. Lalu, Frederico lenyap dari pandangan, ia tak pernah memunculkan wajahnya lagi di rumahku. Ia memang terluka, namun itu lebih baik. Aku menghapus segala ragu dalam sepi.

Kemudian, ketika  musim penghujan tiba, pada Natal pertama yang kami rayakan,   ibu dan ayah mengajakku rekreasi ke Danau Kelimutu. “Ini rekreasi kita yang terakhir sebelum kau menjadi biarawati. Ibu hanya ingin mengulang kembali kenangan ketika kau masih kanak-kanak.” Katanya.

Ah ya, Kelimutu, danau tiga warna yang menawan itu mengingatkanku akan masa kecil dulu, tatkala aku masih duduk di Sekolah Dasar. Ibu kerap mengajakku ke sana untuk rekreasi. Danau yang terdiri dari warna merah, biru dan putih itu, sewaktu-waktu warnanya  dapat berubah. Masyarakat setempat secara turun-temurun meyakini kalau danau itu mempunyai makna gaib yang mencekam dan unik. Warna merah yang bisa berubah menjadi hijau toska atau dalam bahasa daerah Lio, Ende,  dinamai tiwu ata polo, diyakini sebagai tempat bersemayamnya arwah orang berbuat tidak baik sewaktu  mereka masih hidup. Kemudian danau  warna biru atau tiwu koo fai nuwa muri, adalah tempat bersemayamnya arwah para manusia yang tewas ketika muda. Dan danau berwarna putih yang sekarang berubah warna menjadi hijau lumut, adalah tempat yang dipercayai masyarakat setempat  sebagai lokasi bersemayamnya arwah para orang tua. Kepercayaan ini  memiliki hubungan yang tak terpisahkan antara orang yang masih hidup dan  yang sudah meninggal. Berbagai cara dilakukan oleh masyarakat desa yang secara turun temurun untuk menjaga hubungan antara orang hidup dan yang sudah mati melalui pemberian sesajen pada mereka., para penghuni danau yang tak kasat mata, pada  tanggal 14 Agustus setiap tahunnya, ritual ini selalu dirayakan. Inilah yang akan kami saksikan. Kata ibu, “Percaya atau tidak, sebaiknya kita menyaksikannya sebelum kau menjadi biarawati!”

Aku memendam ajakan ibu di hati. Tanggal 14 Agustus tinggal tiga hari lagi, sementara pergulatan batinku belum mereda. Ayah masih memendam rasa tak suka dengan keputusanku. Di malam-malam yang sunyi, ia menyanyikan lagu-lagu Ende,  pulau asalnya dengan nada pedih yang menyayat hati.  Di sela-sela nyanyiannya, kudengar ia berkata pada ibu, “Setelah ia menjadi  biarawati, ia akan menerima sebuah cincin yang mengukuhkannya sebagai pengantin Tuhan, dia tidak boleh memiliki hubungan lain yang dapat mengganggunya dari panggilan Tuhan. Dia harus hidup selibat, tidak menikah. Kasihan Frederico, dia pasti patah hati. Kau tahu Tina, aku sudah menemui ayahnya dan mengatakan pada pria tua itu, kalau kelak ia melamar anakku, dia tak usah memberi belis lagi, Kerbau dan sapi kita ada ratusan ekor, dan tanah pertanian kita sudah cukup luas, untuk apa kita menumpuk harta? Tokh yang kita butuhkan  tak lebih dari beberapa piring nasi untuk kita makan. Kita semakin tua, sebentar lagi tiada. Harapanku hanya pada Maria Annabelle. Aku ingin ia menikah dengan pemuda itu dan memberikanku beberapa cucu, itu saja yang aku dambakan sebelum aku mati.”

Aku Maria Annabele, mendengar semuanya dengan beragam rasa yang sulit dijelaskan. Daerah Lio tempat aku tinggal seolah tertutup oleh degup yang ada di jantungku. Lalu hari itu, hari di mana aku menapaki jejak di halaman depan Danau Kelimutu, suara itu, ya suara itu kian menguat dan sering terdengar di gendang telingaku. “Marilah…marilah datang kepadaku, ikutlah ke mana aku pergi…”

Aku melepaskan pandanganku ke hutan lebat yang mengitari pegunungan di sekeliling danau. Kulihat ritual  Patika Dua Bapu Ata Mata tengah berlangsung.  Ritual yang dalam Bahasa Lio  menuturkan tentang musim tanam. Aku juga menyaksikan  ritual Tedo Tembu Wesa Wela, musim mengembangbiakkan ternak. Dan  juga Peninge Wesi Nuwa, ritual ini  berharap agar kemarau tidak panjang. Selain itu aku memandang tanpa berkedip proses Uja Mae Duna Leja Mae Rapa, ritual memohon agar tubuh selalu sehat dan beberapa ritual lainnya yang diberi nama Buru Mae Sepuu Kaka Mae Sebege dan Ju Mae Su Pai Mae Lai agar terhindar dari hama dan penyakit. Ritual itu seolah menggiringku untuk  berjalan bagai robot ke arah danau yang berwarna kemerahan. Panggilan yang menyuruhku mengikutinya kian jelas terdengar di telingaku.

Danau yang menyerupai kawah itu menjorok dalam dengan riak air hampir tak terlihat. Dalam langkahku, aku seolah melihat ribuan arwah tengah berteriak memperebutkan posisi yang nyaman untuk mereka duduki. Amarah, caci maki dan saling sikut menggambarkan dunia mereka tak jauh beda dengan kehidupan di dunia nyata. Aku berdiri gamang. Namun suara itu kian memengaruhi nalarku. “Mari…mari datanglah kepadaku…” katanya berbisik tajam di telingaku.

Lalu suara ibu lamat-lamat terdengar,  “Jangan lakukan itu Nak, biarkan dua abangmu saja yang menjalaninya. Kalau kau pergi juga, dengan siapa kami harus meneduhkan tubuh tua renta kami?”

Dan ah, aku menarik nafas panjang. Tak lama bayangan ayah dengan kerut di dahinya berkelindan di ruang benakku. Wajah ayah yang letih memandangku dengan tatapan sayu, lalu katanya, “Tuhan pasti mengerti mengapa aku melarangmu…”

Aku Maria Annabelle berdiri tegar menatap danau berwarna kebiruan yang bersisian dengan danau berwarna merah darah. Kulihat dengan jelas beberapa lelaki dan perempuan muda  tengah menari ja’i (tarian muda-mudi NTT) dengan wajah ceria, mereka bertukar lenso, mengangkat satu kaki sambil melompat, lalu menyanyi diiringi sesandu dan ketipung dengan irama ritmik yang cepat dan penuh semangat. Dan dari sana, muncul perempuan berjubah putih memanggilku. Ia berkata, “Kemarilah Maria Annabele, tempatmu di sini, bukan di sana!” unjuknya ke ayah dan ibu yang tengah menggapaikan tangan mereka berusaha menarikku kembali ke pelukan mereka.

Maka seperti kisah yang sudah terjadi, ketika aku terjun bebas ke dalam danau berwarna biru teduh mengikuti panggilan itu, suasana yang tadinya senyap, kini tertutup oleh  gaung kepedihan dan teriakan yang terdengar dari segala penjuru. Aku tenggelam hingga ke dasar danau. Tak ada lagi yang membebani pikiranku sebab panggilan yang menggelayut di dadaku kini telah terbayarkan.

Kemudian danau itu kembali tenang, kisah tentang aku yang terbang melayang di atasnya, bukan kisah fiktif semata. Ayah dan ibu tentunya akan berpikir mengapa kulakukan itu. Tapi begitulah yang terjadi, tatkala aku melayang bak burung rajawali lalu menukik ke tempat yang kutuju, di sana aku meyakini kalau perjanjianku dengan dunia telah selesai. Ya, Aku Maria Annabelle telah menuntaskannya…

Tamat


Fanny J. Poyk. Fanny memulai karirnya sebagai penulis  cerita anak, remaja di berbagai majalah dan suratkabar sejak tahun 80an. Lulusan IISIP Jakarta jurusan jurnalistik ini, pernah menjadi wartawati di Tabloid Fantasi (1991-2004). Sekarang menulis cerpen, cerber  di berbagai majalah dan suratkabar nasional maupun daerah, menulis buku-buku motivasi, buku pemerintahan, profil wliayah dll,  menulis novel, biografi dan memberikan pelatihan menulis  di berbagai provinsi di Indonesia. Beberapa novel, buku motivasi, buku profil wilayah, antologi cerpen  dan puisi telah diterbitkan secara mayor maupun independen. Cerpen-cerpennya telah dimuat di Suratkabar Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Suara Karya, Jurnal Nasional, Bali Post, Surabaya Post dll. Fanny kini tinggal di Depok, Jawa Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here