BUNGA-BUNGA MALAM

Menggigil dukamu
Embun sayup di dahan-dahan patah, terkoyak angin—
Malam terbakar, desir pasir
Jejak sepatu seorang perempuan
Mengigau bayangan bunga

Kau mendengar lengking yang tertahan. Mungkin isyarat. Kelopak malam
Terkupas hening, wajahmu yang jatuh
Mengendap dalam sungai darah
Kenangan tersapu debu dari gerumbul ilalang

Sayup dongeng menidurkanmu, bunga-bunga
Dipeluk malam dengan jerit yang ajaib(wahai, apakah ini khayal?)
Kita abai pada desir utara, separuh langit dalam diriku
Menuai remang, jiwa karam. Karam beriring mimpi

Seorang perempuan
Meninggalkan kenangan
Pada jejak sepatu. Sepatu
Singgah pada petang yang mengacuhkan kita
Pertemuan ilalang—sejuk sore menempuh harum tubuhmu

Sajak pun lengkap, mengingatmu
Bunga-bunga malam
Diacuhkan doa

Surabaya, Oktober 2018

HUJAN YANG TUNGGAL

Aku satu-satunya hujan yang luruh mengeja tubuhmu
Tubuh yang patuh pada segenap bahasa; kematian
Berjeda pada hela nafas pertama, lalu kita renung dalam doa

Kau teringat hujan yang menggigilkan rindu
Rindu yang khatam dibaca pada gulita waktu

Aku tamat mengaji huruf di pedalaman sunyimu
Sunyi tak bercelah—seluruh doa muara pada kau sebenar-benarnya bahasa

Surabaya, Oktober 2018

ANALOGI HARI

Kubasuh perih
Sunyimu meninggalkan debar pertama
Antara hujan yang acuh, samar mimpi
Di kejauhan sebuah kota
Kabut menggelar harapan
Dongeng menjadi fantasi anak-anak, selain komedi
Ditayang berulang kali

Apakah hari bayang fana, katamu
Kita diam menghujam musim
Seseorang mengusir basah
Pada jendela yang gemuruh

Sunyimu maha lapang, kita mendidih
Dalam sebaris analogi pagi
Kehilangan bukan jejak yang berakhir pada sebuah harapan

Hanya kematian
Setelah reda hujan
Kita menempuh
Kilometer kecemasan

Yang ada ujung
Pada sebuah maghrib, sia-sia kau cari

Surabaya, Oktober 2018

SEPULANGNYA PENYAIR

Tanah-tanah rekah
Jejaknya tercatat
Di halaman sejarah

“kita sambut seluruh letih, tuan penyair
bersama muram kata-kata, bayangan kekasih
yang remuk redam dalam ingatan”

Tubuhku semayam seluruh puisi
Malam-malam akrab bersenandung

(sebuah sajak sedang kubuatkan untukmu
antara bintang-bintang lumpuh, cahaya mengapung
kita yang tak betah bercakap tentang rindu terburu)

Kota temaram, jejak tumpah
Ke tanah. Ia datang bersama kata-kata, kekasih sepi
Malam akrab bersenandung tentang rindu, arus gemuruh
Dalam debarmu, detik-detik menyamarkan temu, sepasang tatap
Di kedai kaki lima. Kau pun setia jadi kelana
Bagi seluruh sunyi perjalananku

Surabaya, Oktober 2018

SAJAK YANG (BUKAN) UNTUK KEKASIH

Kita melacak sajak yang tercecer menjelang fajar
Ketika zikir menyusup, hening embun pada lelap daun-daun, kutafsir
Tafsir kecemasanmu yang menebak mendung. Bayangan ibu dalam benak yang kekal
Seduh kenangan dalam secangkir kopi, lalu bayangkan seorang penyair lepas
Dari air mata sajak-sajaknya. Kita mencari jejak yang lindap—tubuh terkantuk pada ketakutanmu

Zikir menyusup, doa bertunas kedalaman hening sembahyang. Tuhan dengan raut yang sengaja
Barangkali berbisik, atas nama awan-awan gemuruh, langit terperangkap hitam, hanya hitam—

“seluruh kita lebur
hanya dalam ilusi
kata-kata, tubuh pulang dari kecemasan
menyeduh mimpi bercangkir-cangkir, sunyi”

Di hulu pencarianku masih tersisa jejak yang tak terlacak, khatam
Huruf membaca perjalanan isyarat, penyair gugur menafsir—
Lengang seluruh kata, mengeja kita yang lupa

Surabaya, Oktober 2018


Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Puisi-puisinya dipublikasikan pada sejumlah media massa dan antologi bersama. Buku kumpulan puisi tunggalnya yang terbit TALKIN(2017) dan Suara Tanah Asal(2018). Mahasiswa di Prodi Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here