Pagi itu matahari sudah silau menerpa mata, itu berarti Raya sudah terlambat masuk kerja. Tugas kampus dan bermacam deadline kepenulisan membuatnya begadang hampir setiap malam. Jangan tanya soal kondisinya gimana? Yang jelas tubuhnya yang mungil bukanlah alasan baginya untuk berdiam diri atau melarungkan saja pekerjaan-pekerjaan itu ke laut lantas ia bisa bersantai. Menjadi anak kampus sekaligus bekerja sudah menjadi pilihan mantap baginya. Tanah rantauan ini cukup keras bila ia tidak lekas bangun dan berjuang keras, ia akan terhempas. Apalagi kiriman uang dari Ibu dan Bapak sering terlambat dan menyisakan receh di atm, cukup untuk bayar kos, bayar spp, makan satu bulan dengan tahu kadang tempe tanpa sayur setiap hari. Bisa-bisa ia kekurangan gizi, minat kuliah tiada jadi tinggi, dan cita-cita bisa putus karena ambisi sudah pupus.

Raya ini seorang perempuan Palembang yang kuliah di salah satu Universitas Swasta di kota Y. Perempuan yang hidup sederhana, namun menolak keras segala derita. Ya, biar pun sebenarnya dengan apa yang ia lakukan setiap hari membuatnya menderita bagi sebagian orang yang memandangnya. Akan tetapi, bagi dirinya ialah harapan agar bisa hidup bahagia tanpa merepotkan orangtua. Komunitas yang ia ambil di kampusnya hanya satu karena ia tidak mau kerepotan sendiri dengan banyaknya aktivitas di kampusnya. Ia tiada dikenal banyak orang, karena ia bekerja di belakang layar sebagai editor di salah satu lembaga media di kampusnya. Itu pun sudah membuatnya bahagia, sebab dengan itu ia bisa sekalian belajar menulis. Lalu dengan pekerjaan yang ia geluti di luar kampus yaitu menjadi kasir sekaligus sesekali waitress di Restoran Muda.

“Ahh… Raya, baru datang kau. Beruntunglah si bos belum datang. Kalau sudah, bisa habis kau ni. Kena SP 3, dipecat baru tau rasa kau,” kata James teman kerja yang paling bawel.

“Aihh… pagi-pagi sudah buat moodku turun peringkat,” tukas Raya.

Bergegaslah Raya ikut merapikan restoran dan bersiap di posisinya. Di samping restoran telah tercium bau si bos pemilik Restoran Muda yang memarkirkan mobilnya. Dialah Rio nama pemilik Restoran Muda, laki-laki lulusan SMA yang sukses karena usahanya. Usianya terpaut lima tahun lebih tua dari Raya. Restoran Muda menjadi tempat nyaman bagi Raya, sebab di sana rimbun tumbuh ide di ladang mana saja. Di toilet, di dapur, di meja makan, di parkiran, apalagi di meja kasirnya selalu ada saja ide tumbuh di kepalanya. Bahkan ide gila sempat membuatnya terjerat masalah.   

Seperti kejadian misalnya; kala itu Raya dapati tembok toilet penuh dengan catatan galau para konsumen jail. Merasa tidak terima, akhirnya Raya dengan berani membacakan salah satu catatan yang bentuknya seperti puisi di hadapan pengunjung. Sontak si pemilik puisi tertunduk dan hendak pergi. Kurang lebih begini bunyinya : “Sudah terlampau lama kita bercengkrama, menikmati deburan ombak atau sekilas senja. Tak kusangka ternyata denganku pun kau berani mendua.” Sontak para pengunjung menatap ke arah Raya, pun yang sudah menyendok makanan berhenti sejenak, yang sedang mengunyah menyetop giginya untuk tidak mengunyah.

Dalam hati, Rio menggumam, “Ahh Raya memang penuh pesona, tapi kadang merepotkan juga. Hal gila apa lagi yang dia lakukan. Awas saja kalau bikin rusuh.”

Raya berorasi, “Bilamana ada konsumen jail lagi di sini yang ketahuan coret-coret toilet, saya kasih SP; wajib traktir semua pembeli yang makan di sini selama satu hari. Kalau mau curhat sok sama saya, jangan sama tembok. Aih jiwa muda macam ape kalian ni.”

“Yak betul sekali, saya sebagai pemilik restoran ini sangat setuju,” timpal Rio tiba-tiba.

Kejadian itu membuat Raya ingin membuka layanan “curhat bareng Raya” sekaligus bikin puisi atau quotes. Bagi yang menang, puisi atau quotesnya berhak nangkring di tembok restoran. Setelah negosiasi yang cukup lama dengan Rio, akhirnya ide itu diterima Rio dengan catatan dilarang membuat keributan di restoran serta tidak boleh mengganggu jam kerja Raya sebagai kasir. Promosi pun ia suarakan dan benar saja seminggu berlalu banyak pesan WA yang masuk minta curhat, ada yang kirim puisi, minta saran, bahkan doa.

“Benar-benar para pemuda ini payah, yang digalauin ya itu-itu aja. Apalagi, kalau bukan tentang cinta.”

Semenjak dibukanya “curhat bareng Raya”, ia menjadi terkenal di sosial media. Restoran Muda pun menjadi ramai, mulai dari kalangan anak muda maupun orangtua hadir di sana. Hal itu membuat Rio memiliki ide cemerlang yaitu membuka stand layanan curhat di restoran. Ide gila itu awalnya ditolak Raya, tapi karena ada tawaran gaji cukup besar, akhirnya Raya mau-mau saja karena baginya bukanlah pekerjaan yang susah. Anehnya setelah satu bulan berlangsung, ada kejadian aneh. Seorang laki-laki seumuran ayahnya datang ke hadapan Raya. Bukannya hendak pesan makanan atau minuman, apalagi curhat, eh malah pesan doa. Yang benar saja.

“Permisi mbak, saya mau ketemu sama yang namanya Raya ada? Orang-orang bilang kalau Raya itu karyawan di Restoran Muda sini,” kata laki-laki itu.

Seorang pelayan bernama Agnes menjawab, “Iya benar, ada di stand layanan “curhat bareng Raya” Pak, sebelah sana, tapi Bapak harus pesan makanan atau minuman dulu baru bisa curhat”

“Tapi saya ini bukan mau curhat, mbak. Saya mau pesan doa,” jawab laki-laki itu dan dengan bersemangat menuju stand “curhat bareng Raya”.

Agnes hanya terdiam membisu. Ternyata ada yang lebih gila lagi, seorang bapak-bapak datang ke restoran hanya mau pesan doa. Sepertinya ini akan jadi tranding topic.

“Assalamuallaikum, ustadzah. Saya mau pesan doa supaya bisa jadi kepala desa,” tutur bapak-bapak itu.

“Wa’alaikumsallam, maaf pertama saya bukan ustadzah dan kedua, saya tidak bisa mengabulkan doa,” tegas Raya.

“Tapi, ustadzah sudah banyak yang membuktikannya. Kemarin sepupu saya juga datang kesini curhat dan minta didoakan sama ustadzah supaya terpilih jadi kepala desa dan benar terbukti adanya. Saya hanya mau meminta syafaat kepada ustadzah,” pinta bapak-bapak itu.

“Sejak kapan syafaat didapat dari perempuan macam saya. Saya sudah muak dengan ini semua, saya bukan ustadzah. Mungkin tampilan saya hampir seperti ustadzah karena saya ini lulusan pondok, tapi bukan berarti saya ini ustadzah dan bisa mengabulkan doa Anda,” jelas Raya dengan meninggalkan restoran itu.

Begitu tersulutnya cerita aneh itu sampai ke telinga Raya. Raya pun sangat heran. Menyadari ada yang tidak beres, lantas ia berniat menutup layanan curhatnya, berhenti menjadi karyawan, membangun usaha sendiri, dan menjalani hidup dengan normal.

Seminggu berlalu, Raya masih dibayang-bayangi rasa heran. Gaji bulan ini pun belum ia ambil sebab ia malas pergi ke Restoran Muda, pun jika tiada sikap baik dari Rio, ia sudah ikhlas. Raya menghabiskan hari-harinya dengan serius menggeluti dunia kepenulisan dan kuliahnya. Ia perbaiki segala yang sempat terabaikan dan tertunda. Tiba-tiba pagi itu, deru mobil tampak parkir di halaman kosnya. Mobil yang sepertinya ialah milik Rio.

“Tok… tok… tok… suara ketukan pintu disertai salam. Raya, ini bos kamu. Janganlah kamu marah,” ucap Rio.

“Iya sebentar,” singkat Raya.

Perbincangan terjadi di antara keduanya. Kedatangan Rio menemui Raya ialah untuk memastikan keadaan Raya dan mengajaknya kembali bekerja di Restoran Muda. Rio yang waktu itu tiada di lokasi kejadian karena pergi ke luar kota selama seminggu tidak tahu dengan jelas alasan Raya meninggalkan Restoran.

“Ra, kamu ini karyawan Restoran Muda yang saya kagumi. Emm maksud saya, maksud saya begini, kamu itu orangnya kreatif dan inovatif. Jiwa kamu itu pas dengan visi misi Restoran Muda,” pinta Rio yang hampir saja keceplosan kalau dirinya diam-diam menaruh rindu dan suka pada Raya.

“Maaf Pak, saya tidak mau dengan hadirnya saya di Restoran Muda menimbulkan kesyirikan. Sekali pun sebenarnya penyebabnya bukan saya.”

“Lah itu kamu tahu, kesyirikan itu datangnya bukan dari kamu. Lantas kenapa kamu tak mau kembali kerja? Kita selesaikan bersama masalah ini. Lagi pula namamu itu sudah tersiar di sekeliling restoran pun media massa.”

“Bapak ini ada-ada saja, saya gak berbuat apa-apa masak saya yang disalahin.”

“Kamu masih tidak percaya, apa kamu tidak membaca berita? Lihat ini,” kata Rio sambil menyodorkan berita online di hanphonenya.

“Seorang Perempuan Berinisial R Diduga Telah Membuka Praktek Kesyirikan Di Sebuah RM,” eja Raya dengan heran.

“Warga di Sekitar Restoran Mulai Resah atas Perilaku Aneh Para Karyawan dan Pembeli RM,” eja Raya lagi.

Raya makin heran, berita tak bermutu seperti itu kok bisa dimuat. Di sana tertulis kata diduga, tidak ada narasumber ahli, hanya berpatokan dari kata-kata saksi yang itu pun di muat media massa. Aneh. Dunia maya yang tak perlu dikhawatirkan.

“Sudahlah Pak, saya nggak mau pusing memikirkan itu. Lagian itu berita bisa saja saya tuntut, dengan tuduhan pencemaran nama baik. Itu berita tidak ada buktinya, Pak. Tenang saja.”

Rio hanya diam dan raut wajahnya sangat muram. Ia memikirkan restorannya yang saat ini sepi pembeli atas kejadian dan pemberitaan itu. Apakah akan diselesaikannya masalah ini sendiri? Karena tidak menemukan jawaban di kepalanya, lantas Rio kembali berusaha meyakinkan Raya.

“Ra, kamu harus tetap memberikan klarifikasi sekalipun itu berita menurut kamu ialah berita bohong atau apalah istilahnya. Kamu perlu tahu satu hal, sekarang Restoran Muda sepi pembeli dan yang lebih parah para karyawan mulai resah dan mau mengundurkan diri,” terang Rio.

“Apa? Separah itukah, ahh sialan. Merepotkan saja,” kesal Raya.

Perbincangan pun berakhir dan Rio hendak pergi kembali ke restoran. Rio berharap Raya ikut dengannya, tetapi dia tidak ikut karena sudah ada janji dengan rekan satu komunitasnya untuk meliput satu berita. Tibalah Rio di restorannya, betapa kagetnya ia karena di sana banyak pengunjung. Bukan pengunjung yang mau pesan makanan atau minuman, tapi mereka adalah polisi dan para wartawan. Berhentilah mobil Rio di depan restoran dan para wartawan langsung mengerumuninya. Satu dua pertanyaan di layangkan ke Rio, akan tetapi ia hanya diam saja. Malas menjawab pertanyaan tidak bermutu itu.

“Selamat siang Pak, apa benar restoran Bapak menjadi praktek kesyirikan?”

“Apa alasan bapak membuat praktek semacam ini?

“Bagaimana tanggungjawab anda sebagai pemimpin atas perilaku karyawan berinisial R karena praktek kesyirikan yang dia lakukan di restoran bapak?

Rio dan beberapa karyawan segera diamankan polisi dan dibawa ke kantor untuk dimintai keterangan. Di lain tempat entah kenapa Raya merasa tidak tenang dan ia memutuskan untuk pergi ke restoran. Sesampainya di sana ia diberitahu Agnes bahwa Rio dibawa ke kantor polisi. Betapa kagetnya Raya, ia pun bergegas menuju ke kantor polisi. Di sana ada Rio, beberapa karyawan, pelapor, dan salah satu warga semuanya berstatus sebagai saksi.

“Sudah saya katakan berkali-kali, ini fitnah Pak. Saya dan semua karyawan tidak pernah melakukan kegiatan yang melenceng dari norma atau pun agama,” kata Rio kesal.

“Ya, itu benar. Ini hanya kesalahpahaman Pak,” kata Raya yang muncul dari balik pintu.

Rio merasa senang atas kehadiran Raya. Setelah satu jam berdiskusi, Pak Polisi menyatakan keduanya tidak bersalah, beberapa bukti tidak mengarahkan Rio atau pun Raya sebagai tersangka.

“Lhoh, Rama. Ada apa ini Pak, dia teman SMA saya.”

“Dialah otak dari kerusuhan ini,” tegas Pak Polisi.


Wahyu We, lahir pada 30 Desember 1995 dan diberi nama Wahyu Widiyawati oleh orangtuanya. Ia tinggal di dekat pesisir pantai selatan, tepatnya di Pedukuhan 9 Jalan, Banaran, Galur, Kulonprogo, DIY. Ia telah menamatkan identitasnya sebagai seorang pelajar di SMA N 1 Lendah. Detik ini sedang bergelut dengan Tugas Akhir di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobinya ialah membaca, menulis, dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan seni seperti misalnya seni lukis, seni tarik suara, dan seni mencintainya dalam imaji. Ia pernah beberapa kali beruntung menjuarai lomba kepenulisan baik fiksi maupun non fiksi, menjuarai lomba baca puisi tingkat Universitas di kampusnya, beberapa puisinya juga bisa dijumpai di web pura-pura penyair, tembi.net, dan kabarpesisir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here