*) Yeremias Bardi
Mahasiswa Magister Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang


…. karya sastra yang memiliki nilai-nilai moral
dan mendidik akan membentuk karakter seseorang
dan penentu masyarakat pada kehidupan
yang damai dan jujur terhadap suatu bangsa.


Sastra merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia melalui bahasa. Dengan kata lain, sastra merupakan salah satu produk budaya yang pernah dianggap sebagai agen penanaman tata nilai kemanusiaan, termasuk kejujuran. Melalui kajian sastra terdapat nilai-nilai yang berdimensi moral. Nilai-nilai moral seperti: kejujuran, pengorbanan, demokrasi santun, dan sebagainya. Dalam karya sastra juga kita dapat mengasah perasaan, berempati, lebih menghargai orang lain, memperhalus perasaan dan membuat diri kita menjadi lebih dewasa. Baik itu puisi, cerita pendek, novel, maupun drama.

Dalam proses penciptaannya, pengarang akan melihat fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat itu  secara kritis, kemudian mereka mengungkapkannya dalam bentuk yang imajinatif. Ironisnya, sastra itu sendiri kini kehilangan kejujuran dalam merefleksikan fenomena kemanusiaan. Sastra telah tenggelam dalam tradisi selebrasi yang mengunggulkan prestasi material. Sastra yang mampu dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral seperti nilai kejujuran, saat ini hanya dipandang sebelah mata. Buktinya, aktualisasi keluhuran sastra akan kejujuran dalam perilaku sehari-hari tidak pernah ada.

Apakah antara karya sastra dengan kejujuran memiliki hubungan yang positif?. Semuanya itu kembali pada sejauah mana kita mengapresiasikan karya sastra dalam kehidupan. Sampai saat ini, pemahaman akan sastra baru dalam taraf kognitif akan ketidakjujuran. Pada kenyataannya, kejujuran dalam karya sastra itu menempati urutan pertama dalam ukuran moralitas kemanusiaan. Adapun salah satu kejujuran yang paling menonjol yaitu jujur terhadap peran pribadi. Seyogyanya kejujuran yang dikehendaki dalam karya satra adalah kejujuran secara lahir dan secara batin. Kejujuran secara lahir itu bermakna, bukan karya plagiat, penuh atau sepotong-potong.

Dalam hal ini, salah satu penulis Chairil Anwar hampir saja jatuh karena ketidakjujurannya secara lahir. Beberapa karyanya tertuduh plagiatis. Tetapi, Chairil Anwar tertolong oleh kejujurannya secara batin yang tercermin pada karya-karyanya yang lain yang bukan plagiatis. Tulisan ini tak berpretensi membedah mana karya yang lahir dari kejujuran dan mana yang lahir dari ketidakjujuran secara batin. Sehingga karya sastra cerita pendek dan cerita panjang (novel), unsur data dan fakta bisa saja dimasukan. Misalnya, dalam  buku novel yang dikarang oleh Ahmad Tohari ini termasuk jenis fiksi. Dalam buku novel ini diceritakan tentang Pambudi, pemuda 24 tahun yang tidak menyukai ketidakadilan.

Selain itu, sisi menarik dari novel ini adalah ceritanya yang mengambil sudut pandang dari hal yang sederhana yaitu suatu kepemimpinan desa, sehingga pembaca dapat mengambil beberapa kesimpulan, misalnya bahwa pada lingkup sempit saja sudah banyak ketidakadilan, apalagi di lingkup yang luas, seperti negara. Walaupun demikian, novel ini dapat memberi gambaran dengan baik pada pembaca tentang keberanian dan kejujuran dapat memenangi sebuah ketidakadilan. Sehingga penggambaran nilai kejujuran dalam karya sastra dapat dituangkan melalui penggambaran dialog antar tokoh, dan melalui deskripsi pengarangnya. Oleh karena itu nilai kejujuran dalam karya sastra mampu merangsang kepribadian seseorang untuk berbuat positif terutama nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-harinya.

Pada titik ini, saya berusaha untuk melihat nilai kejujuran terhadap dunia sastra. Sejalan dengan perkembangan zaman yang terus bergulir, kehidupan manusia semakin maju dan sejahtera. Akan tetapi di sudut yang lain, arus gelombang globalisasi terus menerjang dalam kehidupan manusia yang melewati batas-batas ruang dan waktu. Menciptakan suatu keadaan baru yang membawa manusia kedalam kemerosotan moral, spiritual, dan dehumanisasi. Hal ini membawa manusia semakin jauh dengan penciptanya, dengan indikasi adanya hilangnya rasa kemanusiaan, kejujuran serta keadilan.

Orang bijak mengatakan bahwa kejujuran itu berawal dari rumah dan sekolah. Akan tetapi, proses penanaman nilai-nilai kejujuran mungkin hanya menghasilkan pemahaman dan pemikiran saja, namun belum tentu sampai terwujud dalam pribadi yang utuh. Sikap jujur dan optimis tidak datang dengan sendirinya kedalam diri manusia. Akan tetapi, perlu dibangun dan dikembangkan dengan menggunakan berbagai cara. Salah satu caranya adalah dengan melalui karya sastra, akan membentuk kepribadian seseorang yakni menyampaikan suatu keadaan dan kenyataan apa adanya tanpa menambah ataupun menguranginya dan membimbing masyarakat pada nilai-nilai kejujuran, religius, ajaran moral, estetika dan spiritualitas hidup.

Kejujuran yang mewadah dalam kehidupan, bisa saja terbentuk lewat sastra. Sastra  dianggap menjadi pemandu menuju jalan kebenaran, karena sastra yang baik adalah sastra yang ditulis dengan penuh kejujuran. Sehingga kejujuran dalam karya sastra itu saling berhubungan erat. Berbagai krisis moral yang kini marak terjadi di sekeliling kita dapat diatasi dengan pendidikan karakter akan kejujuran melalui internalisasi nilai moral. Dengan demikian, karya sastra yang memiliki nilai-nilai moral dan mendidik akan membentuk karakter seseorang dan penentu masyarakat pada kehidupan yang damai dan jujur terhadap suatu bangsa.***

Editor:adm/fs

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here