Minggu, Januari 21, 2018

OPINI

Nomadologi Montase Jengky

*) Ezra Tuname Wayan Jengki Sunarta namanya. Ia akrab disapa dengan Jengki. Ia penyair Bali yang berpenampilan tidak “jengki”. Rambut panjang. Akrab dengan jacket levis. Ia sangat rileks jika diajak ngobrol. Lebih rileks lagi...

Semua Kita Pasti “Kalah” Simponi Kematian Dalam Sajak “Derai-derai Cemara” Chairil Anwar

*) Inosentius Mansur Chairil adalah seniman kata. Sebagai seniman, ia tak hanya berkata-kata tentang seni berkata, tetapi juga tentang kegelisahan sosial, seraya sesekali menjadi seorang yang “berdoa dengan berkata-kata secara seni”. Dengan cara estetis,...

PARA PENYEMBAH KURSI, Catatan Sangat Pendek dari Pentas Merdeka Belum Merdeka (?) Teater Aletheia-Ledalero

*) Gusty Fahik Akhir Oktober 2016, sehari setelah seantero negeri mengenang Sumpah Pemuda, saya berkesempatan menonton aksi panggung berjudul Merdeka Belum Merdeka (?) yang dipentaskan oleh Kelompok Teater Aletheia Ledalero. Ini merupakan kali kedua Kelompok...

INTIMASI EROTIS: CREATIO EX PROFUNDIS, Preface ke “Segala Detikmu” dari Reinald L. Meo

*) Sintus Runesi ‘Samudera raya (tehom) berpanggil-panggilan’ (Mzr 42:8) Nietzsche pernah menulis bahwa ‘kita mulai menyusun suatu pesan/sabda pada titik di mana ketidaktahuan kita bermula, di mana kita tidak mampu melihat lebih jauh lagi.’ Pandangan ini seperti...

Membangun Bangsa Lewat Puisi

*) Ezra Tuname Bertanah air satu, tanah air Indonesia Berbangsa satu, bangsa Indonesia Berbahasa satu, bahasa Indonesia Itulah puisi pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Puisi itu mengalir dalam darah dan melekat dalam daging. Sejak itu, puisi itu...

Kehilangan Arah Bermula dari Lupa

*) Mikael M. Soge Kehilangan arah berarti pernah punya arah. Sebuah bangsa diketahui kehilangan arah dari fakta sosial, politik, ekonomi dan kebudayaannya. Demo sebagai ekspresi kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum tidak pernah dibenarkan ketika...

SENI: Begitu Pelik, Memberontak

*) Mikael M. Soge Seni—sebuah dunia yang “kacau balau“—ambigu—memberontak— kompleks dan melabrak kebekuan norma dan nilai yang telah diabstraksi oleh agama dan sains, (Prof. Dr. Bambang Sugiarto, selanjutnya BS). Saya teringat seorang tokoh pernah mengatakan bahwa...

POLITIK LUPA DIRI: YUDAS ISKARIOT DAN PILATUS

Persekongkolan Yudas Iskariot dengan kaum farisi sudah tercium sejak malam perjamuan. Ketika sedang bakar daging anak domba, makan-makan, dan minum arak di sebuah pendopo. Yudas, yang duduk di kursi paling ujung, pura-pura santun, sambil...

Mengapa Kita Harus Membaca?

*) Lee Risar Aku mengayunkan langkah agak cepat dari ruangan kuliah menuju perpustakaan yang letaknya tidak begitu jauh namun terpisah dengan ruang kuliah. Udara pantai yang panas siang ini membuatku sedikit gerah namun sudah menjadi...

PUISI DAN TRANSMISI: Membaca “Melodi Pembebasan Kata”

*) Ezra Tuname Membaca puisi seakan kita sedang memasuki hutan beronak. Begitu susah pembaca menjinakannya. Seribu siasat tetap saja kita terjerat temali berduri dan menyisahkan bekas. Bekas itu semacam makna dan arti sementara. Makna dan...

TERKINI

TERPOPULER