Sabtu, Mei 26, 2018

HEADLINE

KERETA BAYI BERPITA BIRU, Cerpen Monita Alvia

*) Monita Alvia Aku menangkap gurat bahagia pada wajah perempuan itu saat boneka beruang coklat diacungkannya pada kereta bayi. Sambil sesekali menyenandungkan lagu-lagu ceria, boneka itu ia goyangkan ke kiri ke kanan. Kadang pula, terdengar...

INA, AMA, Sajak-Sajak John Tampani

*) John Tampani AMA Ada harap, terkadang meluluhkan rasa. Tangis dan haru, pecah di kepala. “Ama, bening-bening yang luruh dari bola matamu adalah kekuatanku.” Agustus, 2016 INA Ina, bagaimana keadaan ruang doa kita? Aku ingat setiap pagi kau berada di sana Menyemai harap pada...

PAGI, SELALU, Sajak-Sajak Penyair Kereta

*) Penyair Kereta PAGI Stasiun ku kembali Seribu kaki melewati mesin waktu Tawar harap mengendus permainan Menyemai harum bibit bestari Mengumpamakan langit mengurung Awam gelisah mengundang basah Menapaki kaki tangga langit Menyapa bidadari berdandan Elok lestari berdendang lagu Berirama satu mengundang kalbu Melupakan lara sambut asa Menarikan...

TUJUHBELASKU, Puisi-Puisi Epy Dinda

*) Epy Dinda waktu Kau kata waktu adalah aku aku abadi padamu? lalu mengapa kau tak sampai menemukanku? hujan, di pagi teduh teruntuk waktuku yang lalu doa dalam rapuh gundah, maaf kusapa Engkau, Khalik... di sendu merana, ampun baru...

AKU, KALIMAT PATAH, Sepilihan Puisi Mirna Alfiani

*) Mirna Alfiani Rinduku Tawanan Kau tahu? Sekarang aku sedang berlari Menyelamatkan rinduku Agar ia terlepas dari tawananmu Aku takut rindu yang kurajut ini Menghujam pada yang tak semestinya Memang benar rindu ini milikmu Tapi aku takut harus terkurung lagi dalam Ruang pengap tanpa...

HIPERE, NOKEN, DAN WANITA YANG CEMBURU, Cerpen Jeli Manalu

*) Jeli Manalu Tak ada masalah dengan badan setengah bugil. Yang menjadi perhatian adalah ketika di punggung Temina menggantung tiga susun tas jaring-jaring. Dari salah satu tas itu, yang paling besar itu, terdengar rengekan serupa...

KEMBALI KE UDIK: Puisi-Puisi Alexander Aur Apelaby

*) Alexander Aur Apelaby KEMBALI KE UDIK ke udik kita berjalan pulang bukan pulang ke kesunyian bukan pulang ke keheningan ke udik kita berjalan pulang dengan bongkah-bongkah keramaian di pundak dengan keramaian yang meletihkan jiwa ke udik kita berjalan pulang untuk memeluk lagi...

MENDUNG YANG BERBICARA, Cerpen Anung D’Lizta

*) Anung D’Lizta Saat itu di musim penghujan. Bukankah kita ketahui. Hujan kerap mengapeli hari-hari yang tua. Sendiri dalam takaran waktu yang bergulir. Ah, ada apa dengan ingatan ini. Ia seakan mengulum mendung dan mencurahkan...

TIGA FRAGMEN SEBELUM HUJAN, Cerpen Maywin Dwi-Asmara

*) Maywin Dwi-Asmara 1. Senja begitu sendu, matahari menyisakan gurat jingga di ujung langit utara, awan cumulus menggantung tinggi membentuk sebuah dunia baru, dunia yang ringan membentang di atas gedung dan kawat-kawat hitam yang melintang, membentuk...

TENTANG DUA BELAS WARNA, Cerpen Dee Hwang

*) Dee Hwang Aku tidak tahu mengapa duniamu bisapunya lebih dari dua belas warna, Bujang. Mengapa dapat merupasedemikian jamak? Apakah mereka ada di kehidupanku selama ini, namun terlewat saat menghitungnya? Atau katakanlah karena aku yang...

TERKINI

TERPOPULER