*) Lia Zaenab Zee Titik Kerontang Air mata asing bukan asin lupa kuteguk membawa kayuh kaki goyah mengira-ngira pelayaranku tumpul liat terbelit tanjung di selat-selat sesat aku kerontang dalam payau pelayaran Malin Kundang Makassar ,10 Juni 2016 Dari Tiang-Tiang Langit Tiang-tiang langit tercerabut kayu-kayu lapuk iman setelah lama timbul tenggelam seperti...

*) Moh. Ghufron Cholid KEPADA YANG KELAK JADI TULANG RUSUK mengembara, aku mengakrabi waktu melacak adamu melintasi tanah, melintasi laut dan awan pengembaraan, mengenalimu tak usai. Takkan pernah usai ada yang kerap bertarung buatku linglung dan linglung tersungkur aku pada sajadah kurajam resah aku sepenuh...

*) Yandri Kapestrano Saima TIGA BOTOL SEPI Ia tenggak tiga botol sepi saat mereka santai-santai di bawah lantai sebuah kata pengantar sebelum botol pertama: “Seteguk untuk Musa Seteguk untuk Elia Seteguk untukku Ceguk! Ceguk! Perjanjian Lama!” Tandas! menyusul kata pengantar untuk botol kedua: “Seteguk untuk Bapa Seteguk untuk Putra Seteguk...

*) Bataona Noce Penjahit Hati di Oratori ;buat Pastor Carbonell, SDB Dijahitnya jiwa-jiwa muda, dibetuli menjadi hati yang layak di surga kelak. Pernah dibantahi aku, “Kitalah penjahit itu….” Di Oratori kami sama menjahit kain yang indah. Buat Tuhan. Pendirianku tetap, dialah penjahit...

Flores, 7 December 2016 Surat ini aku tulis untukmu, Aceh, melaluimu, sahabatku, Nana Azharul. Aku menulis surat ini sebelum siang pulang. Ketika senja sajikan jingga paling indah di tepi barat Pulau Flores. Ketika angin meliuk-liuk...

*) Dedi Lolan Sajak mas Darwin Kotaku Beton-beton Jembatan laying Gerbong  kereta Becak dan ontel Sumur kering Kali kering Selokan kering Gedung pancoran Hotel berkolam Jalanan sesak Pelancong Pemodal Pelajar Pribumi Pengamen Pengemis Pemulung Perut…perut…perut Pertempuran satu jagat Makan malam di piring juara Jogja, 08 Mei 2016 Mata Hati Mati Kau tahu berapa kali aku memaki gravitasi dalam...

*) Komunitas Sastra Hujan-Ruteng HAWA Ani Merenung Pesonamu tak lekang zaman Tak pernah pudar oleh waktu Semboyan indahmu Kini berbuah manis Dinikmati insan yang mendamba kebebasan hidup Ratna Bersenandung Masih terekam dalam memoryku Tentang bongkahan-bongkahan batu karang Yang telah terkikis oleh bilah kristal...

*) Seto Permada “Lima belas menit lagi kita akan terbang, Daisy,” seorang pria yang mengenakan sweter tebal bulu domba warna abu-abu memerhatikan arloji di lengan kirinya. Berdetak mundur. “Ini benar-benar keterlaluan, Pap. Empat jam bukan waktu...

*) Rini Jurman Topeng Maut Aku seorang  ekspresi makhluk yang tercampakan Aku tak berarti Aku tak benilai Luka yang mengental di dalam nadiku Bedampingan dengan impian yang keliru Masih setia bersarang di jiwa yang busuk ini Kenangan pedih masa lalu...

*) Rini Temala Juni merindukan April Aku ingat Bagaimana aku diam di beranda ini Saat itu aku ditemani segelas kopi Menikmati hujan pertama tanpa rindu dibulan April Benarkah? Maaf, aku bohong Aku menghadap bukit yang menjadi batas Saat itu engkau di...