Selasa, Juni 27, 2017

*) Gusty Fahik Sajak Mata Di matamu kata kata berhenti mengalirkan makna seperti mendung yang gagal meneteskan hujan. Anak anak menerbangkan layang tak peduli kemarau panjang bakal melahirkan paceklik sementara pemerintah sibuk mengurus ketidakwarasan yang merajalela...

*) Riny Jurman RINDU Tenggelam aku dalam lamunan Saat mata menatap pada sudut dinding Rindu kembali menyesak Pada hati yang membungkus luka Rindu ini menggerogoti jiwa Aku bertanya pada malam Yang membawa aku pada rindu itu Apakah desah ini masih...

*) Komunitas Sastra Hujan Febhy Bermelodi..... Seperti separuh nafas Kemana ku pergi ia kian menyisakan rindu Seperti Ibu terus berharap di sampingnya Lalu berkata aku selalu nyaman bersamanya Ratna Berkelana..... Namanya Rumah Separuh kehidupan yang selalu memberikku kisah Tempat yang selalu memberi aku...

*) Franks Lamanepa LELAKI DALAM BATU Kepada Frans Lebu Raya Mana mungkin jejakmu tertinggal? Tapakmu baru terukir seketika engkau usap? Lantas bergigih engkau koar di gendang telingaku? Itupun tak surutkan puasmu, Engkau menyeruduk lagi dengan baja mendidih? Tanyamu lagi bak badai Petir: Dimana...

*) Djho Ismail CATATAN KULIAH I Melayang di pelupuk hari. Aku terkesima dunia yang diciptakan indah berubah Makna syair yang sebagai petuah sirna Lekang oleh onggokan kemunafikan Bidadari tak lagi terbang ke telaga Airnya telah kering menyisakan anyir darah Sayap mereka telah...

*) Hardy Sungkang Hujan Butiran manis manikam kejam Menumbuk ubun alam Tak lepas landas Desus. Ada gadis bermata binar Berkilau antara gerimis Mengemis bisu Kusuk Bulir matanya diracun hujan Tak lagi berbinar Darah beracun Bening Gadisku di tepian hujan Balik punggung indahmu Ini tubuhku Dekaplah Usap bulir bening mata Biar tenang jiwamu Tatap aku Kasih. April,...

*) Elang Segara Pagi adalah batas cumbu antara embun dan daun. Sebab malam telah menetaskan petaka bagi keduanya. Aku menyebutnya surya. Peristiwa biasa sebab kodrat. Tapi pagiku dan 'kau telah celaka sebab arah, Patah. Hingga kita...

*) Febhy Irene  “HANTU Hantu setengah demam Bukan panggung bukan kepala Sarafnya bergetar menahan kesakitan Penyakit baru sedang melanda Tidak lagi dia beralkitab Bukan pangeran yang dinobatkan Tapi raja yang menobatkan Diri sendiri Ia itu dia Yang terkadang kampungan Konyol terlihat bodoh oleh kedudukan Jika lemari arsip...

*) Abbah al-Lazar Tempuling tergenggam keberanian. Mata-matanya menembus takut. Laut ini altar pengorbanan. Litania penyerahan dalam sembahyang kesadaran sang lamafa. Saatnya telah tiba. Baleo...teriakan dari pesisir bagai lonceng bertalu di menara gereja. Sebait doa berserah diri....

*) Vianey Saffran REQUIEM  (1) Setelah kemarin nafas duka terlalu sesak memenuhi semua ruangan. Malam ini dapur kami penuh dengan wangi rempah dan minyak mur. Sesekali ibu hanya tersenyum mengelabui rasa kecewa. Kemarin malam, tepat di sini, tempat aku...