*) Putra Niron Kaca-Kaca Retak Marilah kita berdiri Pada kaca ini Di sana kita akan bertemu banyak retakan wajah. Wajah-wajah kita penuh retakan. Kita akan berjumpa dengan mata kita sendiri. Akan melihat telinga kita sendiri. Marilah kita bersimpuh Pada kaca ini Di sana kita...

*) Orvin Grendi Menimang Noah Kecil mungil, dunia hangat mendekapmu Langit ceria dengan arak-arak pasukan awan bentengi hadirmu Sore yang hening oleh ucap syukur lalu pecah Perdana, tangismu membelai manja telinga di bulan ke tujuh Selamat datang, Noah! Sapa haru ayah...

*) Servasius Hayon Aku Tidak Tahu Siapa Aku Kebodohanku adalah lagu lama Tentu itu bukanlah yang asing bagiku Tapi bagi mereka sungguh menimbulkan tanda tanya Aku telah mencoba terbang lagi Berusaha bersahabat dengan segala angin, Sebab mataku punya sesuatu yang dituju Seperti...

*) Azis Moch. Alzubaidy Memberi Kehangatan Kedatangan senja tak pernah terlambat Selalu datang pada waktu yang tepat Dengan sore itu membangkitkan gairah disetiap tekukan kopi hitam Perlahan senja pergi menuju pangkuan malam dengan terselimuti gelap Kini gerimis membasahi atap...

*) Retha Janu Seorang Ibu yang Berhenti Menyusu Pada waktu pagi, seorang anak sibuk mencari-cari asi ibunya yang kecut seperti keringat Diraba-raba payudara ibunya dan tahu perihal ibunya sedang marah besar Sampai-sampai air susunya takut keluar Pada waktu siang,...

*) Endy Sie Masada Mungkin sudah cukup kami kabarkan hari, Kami kehabisan mimpi. Sebab kami akan dirajam rupa-rupa mati, Kami bunuh diri Cukup sebagai keangkuhan lelaki-lelaki ugahari. Jejak Hari Dengan melupakan saat, setiap waktu kerap berlari sendirian Mereka menyusuri tubuh-tubuh sepi mereka Juga bangkai-bangkai...

*) Berno Ebang dan Kocha Bani KOPI PERTAMA PAGI INI *) Berno Ebang Kopi pertama pagi ini, semanis rindu yang tumpah sepanjang hari dari awal bangun tidur Kopi pertama pagi ini, sepahit cinta yang terlalu kerdil untuk dianggap Kopi...

*) Ratnasari D. Jawa Ito Gadis Di Jendela Sebuah kursi menunggunya Ada kerinduan yang tersimpan dimata sahabatnya. “Duduklah” suara itu mendesah. Dia berjalan dan meraih tempat itu. Bibir memarnya menyunggingkan senyum Jendela hanya menatapnya peluh. Kiciran air  yang menetes disudut kaca, Hanya menjadi...

*) Fitri Wolos dan Mikhael Wora PENA PENGGORES KEHIDUPAN *) Fitri Wolos Goresan kecil tumpah pada kertas yang putih Beribu makna pun ditafsirkan berbeda Adakah yang menyalahkan apa dan siapa? Ataukah pena di genggamanmu itu yang bersalah? Bukankah jemarimu menuntunya...

*) Jefry Seran Tahuk JALAN PULANG Setelah kepergian itu Kutahu mataharimu tak lagi terbit di hatiku Ingin kudengarkan kicauan burung-burung di pagimu, tapi selalu ada kabut yang menutupi telinga Maka, baiklah aku memilih jalan pulang Sebagai hujan yang jatuh di...