*) Agustinus Kani MALAM MINGGU :untuk tanah kelahiran sementara senja memerah di lagit Manila dan rembulan berbunga soneta rindu merembes tangis laksana hujan yang jatuh rimis titik satu-satu hati mengiris. Amboi! malam minggu di tanah perantauan tegap sediam lembut. (Manila, Januari 2016) PROSESI antara terik jalanan dan...

*) Herman Efriyanto Tanouf Percakapan Raja Rimba Mari kita cabuti bulu domba ia tiada mengembik lalu mulailah berhitung! aku jamin kau tiada mampu Begini, hitunglah dalam gumpalan biarlah membentuk tungku lagi letakkan tempayan di atasnya kencingi hingga merembes pasanglah bara di kiri di kanan jadilah...

*) Nana Ernawati Laut milikku dan ombak milikmu menjauh dari pantai angin kehilangan debar dan perahu kehilangan sauh pagi membelah sepi, air membiarkan kapal berlayar tak ada tuju terasa Ende seperti mimpi menjulurkan tangannya yang hangat aku laut tak...

*) Erna Sengkang AKU, BARANG SEBATANG Aku.. Barang sebatang Menyuguhkan kenikmatan Aku.. Barang sebatang Selalu kau cari Bila tanpaku Ketampananmu berkurang Aku.. Barang sebatang Kau isap Kau telan Dan kau hembuskan Melalui kedua terowongan Aku.. Barang sebatang Telah singgah Di dalam pusat kehidupanmu Jantung dan paru-parumu Telah kuselimuti Dengan mantel hitam Yang perlahan-lahan Mengikis hingga habis Aku.. Barang sebatang Telah menguasai...

*) Michael M. Soge Hari ini yang kuarung (1) Yang menari-nari di pucuk bambu lambai tak sampai Ha dan Ju kawin di yang (2) Mari berkenalan dengan angin Akankah tuntas? Pikuk aku di Rabu Rak buku (3) Akan kususun sampai kemu Isi tahun tiada mati Kanjang-kah kekal ya Untuk...

*) Febhy Irene “SUATU MENIT Di suatu menit tunjukkan pada hari suasana itu senja tangga-tangga kayu itu saksi deretan pulau terpaku bak tercengang samudrapun malu-malu tuk melaju aku mengalahkannya tetesan pipi tinggal menunggu jeritan tapi sayang ombak terus menerjang berlomba-lomba tuk datang menertawaiku pantai tidak sebodoh...

*) Monika N. Arundhati BIRAHI Pada ribaanku, engkau desiskan kata-kata purba I Love You Kuusir matahari yang mengintip lewat jendela kaca, lalu kita saling mengeja tubuh HIDUP Kususun mimpi demi mimpi kaulah dasar sekaligus puncaknya segala yang lain adalah tiada PENGAKUAN Kau yang paling awal yang paling...

*) Febhy Irene “KALAU BOLEH Serunai dalam elegi berembun Tamparan pagi mengusap semua resah Melodi bersujud lembut Nada-nada mereba pada dinding-dinding penjajah Di belakangnya ada sesosok pilu Di depannya berdiri tegar senyuman palsu Apa sungguh aku melihat dengan pasti ? Ya Tuhanku Kalau boleh...

PEMANTIK *) Wahyu Urbanus Ada yang suka pemantik Saya, kamu, kita, kami dan mereka. Pemantik itu api, api itu hangus, terbakar? Yah juga ada asapnya. Itulah saya, kamu, kita, kami dan mereka. Nitapleat, Januari 2016 ZAITUN *) Yos Koting ah. . . .bahkan anjing...

*) Ardi Suhardi MEMBUKA MATA DAN MEMPERHATIKAN SEORANG BAPAK BERJALAN PINCANG Di pinggir jalan aku memperhatikan seorang bapak tua Berjalan pincang. Tongkat kayu sengaja dipikulnya sebagai penopang Jika sesekali ia memaksa berdiri atau memilih duduk lagi. Lagi. Bapak tua yang...